BI Godok Aturan Uang Muka Rumah dan Kendaraan Sesuai Wilayah

ANTARA FOTO/Seno
Warga berjalan di perumahan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Bank BTN di Kelurahan Tegal Gede, Sumbersari, Jember, Jawa Timur, Kamis (9/3).
22/8/2017, 21.55 WIB

Bank Indonesia (BI) tengah mengkaji kemungkinan menerapkan kebijakan uang muka Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) sesuai kondisi daerah. Tujuannya, untuk mendorong penyaluran kredit yang lebih ekspansif sehingga mendukung ekonomi tumbuh lebih tinggi.

Gubernur BI Agus Martowardojo menjelaskan, berdasarkan kajian BI, perkembangan industri properti dan otomotif memang berbeda antardaerah. “Kalau kajian kami kuartal II 2017, yang membuat lemah itu kan Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Tapi region lain, Sumatera, Maluku, Papua, Bali, dan Nusa Tenggara cukup baik,” kata dia di kantornya, Jakarta, Selasa (22/8).

Bila kebijakan tersebut diterapkan, maka daerah dengan penjualan rumah dan kendaraan bermotor yang rendah berpeluang menikmati uang muka KPR dan KKB yang lebih ringan. Meski begitu, Agus enggan menjelaskan secara detail rencana kebijakan tersebut lantaran masih dalam tahap pengkajian. “Kami belum bisa jelaskan,” ujarnya.

Adapun berdasarkan hasil survei BI, kenaikan harga rumah tipe menengah dan besar terpantau semakin menipis. BI menilai, hal itu juga seiring dengan pertumbuhan penjualan rumah yang juga melambat. (Baca juga: Survei BI: Kenaikan Harga Rumah Menengah dan Besar Kian Tipis)

Mengacu pada survei BI terhadap pengembang perumahan di 14 kota, harga rumah tipe menengah hanya mengalami pertumbuhan sebesar 2,49% secara tahunan pada kuartal II lalu, lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 3,87%. (Baca juga: Masyarakat Kelas Menengah Berhemat, Penjualan Rumah Melambat)

Demikian juga dengan harga rumah tipe besar yang hanya naik 1,71% secara tahunan, lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 2,16%. Di sisi lain, harga rumah tipe kecil tumbuh 5,76% secara tahunan, lebih tinggi dari periode sama tahun lalu yang hanya 4,15%.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit perbankan tergolong rendah. Per Juni lalu, kredit bank hanya tumbuh 7,8% secara tahunan, lebih rendah dari bulan sebelumnya 8,7%. BI pun memutuskan untuk memangkas lagi bunga acuan sebesar 0,25% menjadi 4,5%. Harapannya, permintaan kredit bisa meningkat. Meski begitu, BI memprediksi pertumbuhan kredit perbankan hanya akan berkisar 8-10% tahun ini, lebih rendah dar prediksi awal 10-12%.