Rupiah Diramal Menguat Jelang Peluncuran Danantara, Tersulut Data Ekonomi AS
Sejumlah ekonom memproyeksikan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan melanjutkan penguatan. Hal ini terjadi di tengah momen peluncuran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara Danantara.
Pengamat pasar uang, Ariston Tjendra mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS). Ariston menjelaskan, indeks dolar AS pada pagi ini terlihat bergerak turun.
“Saat ini di kisaran 106.26, lebih rendah dibandingkan pagi sebelumnya di kisaran 106.50,” kata Ariston kepada Katadata.co.id, Senin (24/2).
Dia menjelaskan, data ekonomi AS seperti tingkat keyakinan konsumen bulan Februari 2025 dan data penjualan rumah existing bulan Januari yang dirilis pada Jumat pekan lalu memberikan tekanan terhadap dolar AS. Hal ini dikarenakan data yang dirilis lebih rendah dari ekspektasi pasar dan hasil sebelumnya.
“Ini memberikan persepsi ke pasar bahwa ekonomi AS sedang dalam tekanan,” ujar Ariston.
Selain itu, kebijakan kenaikan tarif perdagangan Presiden AS, Donald Trump juga masih tarik ulur. Ariston melihat hal ini membuat pelaku pasar melepas posisi sebelumnya yang mengantisipasi kebijakan kenaikan tarif Trump sehingga memberikan tekanan ke dolar AS.
“Dengan sentiment ini, hari ini rupiah berpeluang menguat terhadap dolar AS ke arah Rp 16.220 per dolar AS dengan potensi resisten di kisaran Rp 16.300 per dolar AS,” kata Ariston.
Berdasarkan data Bloomberg pagi ini pukul 09.10 WIB, rupiah dibuka menguat pada level Rp 16.312 per dolar AS. Level ini menguat 1,0 poin atau 0,01% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sanada, Analis Doo financial Futures, Lukman Leong juga memproyeksikan rupiah akan menguat terhadap dolar AS. “Rupiah hari ini akan berkisar pada level Rp 16.250 per dolar AS hingga Rp 16.350 per dolar AS,” kata Lukman.
Lukman juga mengungkapkan, dolar AS kembali melemah setelah data penjualan rumah dan sentimen konsumen AS yang lebih rendah dari perkiraan.
Sementara itu, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana juga memprediksi rupiah akan melanjutkan penguatan pada hari ini. “Semoga kembali melanjutkan apresiasi ke level Rp 16.200 per dolar AS hingga Rp 16.370 per dolar AS,” ujar Fikri.
Fikri menyebut saat ini dolar AS juga terpantau melemah. Terlebih dengan adanya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Jepang pada Maret 2025 yang akhirnya mendorong penguatan yen Jepang terhadap dolar AS.