Bank Indonesia meyakini kerja sama sistem pembayaran berbasis kode Quick Response atau QR dengan Cina akan memperkuat rupiah. Sebab, kolaborasi tersebut memungkinkan wisatawan asal Negeri Panda untuk menggunakan fasilitas Transaksi mata Uang Lokal atau LCT.

Badan Pusat Statistik mendata kunjungan wisman dari Cina hingga Agustus 2025 berkontribusi sekitar 9% dari total kunjungan wisman atau sejumlah 905.035 orang. Adapun rata-rata tinggal wisman asal Negeri Panda pada Agustus 2025 mencapai 20,54 hari.

"Harapannya  pasti kerja sama QR lintas batas dengan Cina berdampak pada penguatan rupiah. Kalau tidak, buat apa kami melakukan kerja sama tersebut," kata Direktur Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Ryan Rizaldy usai Diskusi Publik "Sistem Pembayaran Lintas Batas ASEAN Berbasis QR", Rabu (1/10).

Walau demikian, Ryan mengaku belum dapat menjelaskan berapa persen dampak kerja sama QR lintas batas dengan Cina terhadap penguatan rupiah. "Yang pasti, kerja sama tersebut akan mendatangkan banyak devisa dari wisman asal Cina yang melakukan transaksi di dalam negeri," katanya.

Ryan mengatakan inisiasi QR lintas batas merupakan upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap Dolar Amerika Serikat. Namun Ryan mengakui pengurangan penggunaan Greenback masih membutuhkan waktu.

Dia mencontohkan usaha Cina dengan menerbitkan mata uang Renminbi sebagai nilai tukar di luar Cina Daratan pada 1949. Menurutnya, International Monetary Fund baru mengakui Renminbi sebagai cadangan mata uang pada 2011 dan masih belum berdampak pada pengurangan ketergantungan Dolar Amerika Serikat.

Karena itu, Ryan menilai inisiasi QR lintas batas masih dalam tahap awal dalam upaya pengurangan penggunaan Dolar Amerika Serikat. Menurutnya, strategi tersebut dipilih agar konsumen di negara-negara mitra terbiasa menggunakan fasilitas tersebut di tingkat ritel sebelum nilai transaksi ditingkatkan agar berdampak dalam pengurangan penggunaan Greenback.

"Kami memulai strategi ini dengan cara tidak membebani pasar. Kami menilai ini posisi paling strategis untuk memulai pasar kurs rupiah-Bath atau rupiah-Ringgit. Namun efektivitas untuk mengurangi penggunaan dolar masih rendah," ujarnya.

Adapun kerja sama QR lintas batas terbaru adalah dengan Bank of Jepang. Dengan demikian, pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standar atau QRIS dapat dilakukan di Negeri Sakura.

Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta bahkan langsung mencoba transaksi QRIS di World Expo 2025 Osaka, Senin (25/8). Uji coba ini disaksikan Gubernur BI Perry Warjiyo, Wakil Dubes Jepang untuk Bidang Ekonomi Ueda Hajime, serta Menteri Keuangan Jepang Katsunobu Kato.

Perry menyebut konektivitas QRIS Indonesia–Jepang sebagai babak baru penguatan hubungan ekonomi kedua negara.

“Kini masyarakat Indonesia bisa lebih mudah bertransaksi di Jepang. Hal ini mencerminkan sistem pembayaran yang makin kuat, saling terhubung digital, dan semakin seamless,” ujarnya dalam acara High Level Campaign LCT and Launching QRIS Cross Border Indonesia–Jepang yang disiarkan daring.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief