Harga Emas Dunia Merosot Lagi hingga 4%, Ini Faktornya
Harga emas kembali merosot pada perdagangan awal pekan ini, Senin (2/1), melanjutkan penurunan terbesar dalam lebih dari satu dekade pada akhir pekan lalu. Hal ini terjadi usai lonjakan harga yang terlalu jauh dan cepat.
Mengutip Bloomberg, harga emas spot turun hingga 4% pada perdagangan awal Senin, sedangkan perak turun dengan persentase yang sama untuk bertahan di atas US$80 per ons, setelah sempat turun hingga 12%. Logam putih tersebut juga mencatat penurunan intraday terbesar sepanjang masa pada sesi sebelumnya.
“Ini belum berakhir,” kata Robert Gottlieb, mantan pedagang logam mulia di JPMorgan Chase & Co. dan sekarang komentator pasar independen.
Ia belum melihat titik keseimbangan baru harga emas dan masih melihat aksi jual terlalu ramai.
Harga emas telah melonjak sepanjang tahun lalu dan beberapa kali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Reli tersebut meningkat tajam pada bulan Januari, karena investor berbondong-bondong membeli emas dan perak di tengah kekhawatiran baru tentang gejolak geopolitik, penurunan nilai mata uang, dan independensi The Federal Reserve.
Aksi jual besar-besaran pada logam mulia terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh untuk memimpin The Fed pada Jumat (30/1). Keputusan Trump membuat dolar menguat dan melemahkan sentimen di antara investor yang bertaruh pada kesediaan Trump untuk membiarkan mata uang melemah.
Investor menganggap Warsh sebagai penentang inflasi terkuat di antara kandidat final, meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang akan mendukung dolar dan melemahkan harga emas.
Harga emas turun 2,2% menjadi US$$4.784,54 per ons pada pukul 08.05 waktu Singapura atau 07.05 WIB. Harga perak turun 2,1% menjadi US$83,30. Platinum dan paladium juga turun. Indeks Spot Dolar Bloomberg, indikator mata uang AS, tetap stabil setelah naik 0,9% pada sesi sebelumnya.