Rupiah Menguat ke Rp 17.168 per Dolar AS, meski Tensi Global Masih Tinggi
Nilai tukar rupiah menguat pada penutupan perdagangan sore ini, Senin (20/4). Penguatan mata uang nasional itu berlangsung di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih bergejolak.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terangkat 21 poin ke level Rp 17.168 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp 17.188 per dolar AS.
Sepanjang perdagangan, rupiah sempat menguat hingga 25 poin sebelum akhirnya sedikit terkoreksi menjelang penutupan. “Namun, untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.160 hingga Rp 17.200 per dolar AS,” kata pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, Senin (20/4).
Dari sisi eksternal, Ibrahim menjelaskan, tekanan terhadap pasar keuangan global masih cukup kuat. Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kedua negara saling menuduh melanggar kesepakatan gencatan senjata, termasuk insiden penyerangan kapal Iran di akhir pekan kemarin.
Presiden Donald Trump menyebut militer AS telah menyita kapal kargo Iran yang mencoba menghindari blokade. Sementara itu, Teheran menegaskan tidak akan melanjutkan pembicaraan damai, meski ada ancaman serangan lanjutan dari AS.
Situasi tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia hingga 7% pada awal pekan, yang meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Hal itu turut menggeser ekspektasi kebijakan moneter AS menjadi lebih ketat dalam jangka waktu lebih lama, sehingga memperkuat dolar AS dan menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, sentimen juga tidak sepenuhnya mendukung. Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mengingatkan Pemerintah Indonesia untuk berhati-hati dalam belanja negara di tengah ketidakpastian global.
IMF menilai risiko krisis energi meningkat akibat konflik Timur Tengah, terutama jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lama. Badan internasional itu juga menyoroti keterbatasan ruang fiskal Indonesia di tengah meningkatnya utang publik.
Kebijakan seperti subsidi energi dinilai berpotensi membebani anggaran jika tidak dikelola dengan baik. Dalam skenario terburuk, pemerintah dan bank sentral perlu menyiapkan langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sistem keuangan.
“Namun, bank sentral tidak akan bisa berbuat banyak dalam hal memengaruhi harga energi yang akan mendorong inflasi naik. Pasar pun akan memperhitungkan kenaikan suku bunga. Dalam situasi ini, IMF juga meminta Bank Indonesia tidak buru-buru menaikkan suku bunga selama ekspektasi inflasi tetap terkendali,” kata IMF.