Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan pelemahan nilai tukar rupiah ini kemungkinan besar diakibatkan oleh kondisi geopolitik yang masih menunjukkan ketidakpastian.
Nilai tukar rupiah menguat 0,04% ke level 17.222 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, tetapi berpotensi melemah seiring memanasnya tensi geopolitik.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh persepsi pasar terhadap disiplin fiskal, isu MSCI, hingga outlook negatif di sektor perbankan.
Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS lebih banyak dipengaruhi faktor domestik.
Nilai tukar rupiah menguat pada penutupan perdagangan sore ini, Senin (20/4), di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih bergejolak.
Nilai Tukar Rupiah diproyeksikan menguat terbatas terhadap Dolar AS didorong sentimen positif dari kebijakan kenaikan harga BBM non subsidi yang dinilai meringankan beban APBN.