Bank Mulai Perketat Penyaluran Kredit
Survei Perbankan Indonesia mengindikasikan perbankan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit baru pada kuartal II 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal ini terlihat pada kebijakan terkait suku bunga, plafon, jangka waktu, hingga biaya persetujuan dan perjanjian kredit.
Berdasarkan hasil survei perbankan yang dirilis pada Senin (20/7), kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) positif sebesar 1,03. Namun, standar penyaluran kredit diprakirakan lebih longgar, dengan ILS negatif sebesar 2,25.
"Standar penyaluran kredit yang lebih berhati-hati tersebut terutama terjd pada jenis kredit KPR/KPA dan kredit konsumsi lainnya," demikian penjelasa BI dalam survei perbankan.
Di sisi lain, ILS yang lebih longgar terlihat pada Kredit Modal Kerja, Kredit Investasi, dan Kredit UMKM. Menurut para bankir yang disurvei, beberapa aspek kebijakan penyaluran kredit yang lebih berhati-hati antara lain pada aspek suku bunga kredit, plafon kredit, perjanjian kredit, jangka waktu kredit, dan biaya persetujuan kredit.
Meski penyaluran kredit lebih ketat, BI mncatat penyaluran kredit baru pada kuartal II 2026 meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal ini tecermin dari nilai SBT penyaluran kredit baru kuartal II 2026 sebesar 93,08%, lebih tinggi dari SBT 38,74% pada kuartal sebelumnya dan SBT 85,22% pada kuartal II 2025.
Peningkatan penyaluran kredit baru terjadi pada seluruh jenis penggunaan kredit. Kredit modal kerja menjadi kontributor terbesar dengan SBT 94,34%, diikuti kredit investasi sebesar 93,51%, serta kredit konsumsi sebesar 83,67%. Ketiganya mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.
Pada segmen kredit konsumsi, peningkatan terutama didorong oleh:
- Kredit pemilikan rumah/kredit pemilikan apartemen (KPR/KPA): SBT 78,20%
- Kredit multiguna: 69,71%
- Kredit kendaraan bermotor: 67,95%
- Kredit tanpa agunan (KTA): 49,70%
Sementara itu, permintaan kartu kredit masih tumbuh dengan SBT 30,18%, namun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya.
Survei BI menunjukkan KPR/KPA tetap menjadi motor utama kredit konsumsi sepanjang beberapa tahun terakhir, sementara permintaan kartu kredit cenderung lebih berfluktuasi.
Secara sektoral, penyaluran kredit baru meningkat di sejumlah sektor ekonomi. Sektor Transportasi, Pergudangan, dan Komunikasi menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, mencatat SBT 91,86%.
Posisi berikutnya ditempati:
- Jasa Pendidikan: 83,03%
- Industri Pengolahan: 73,78%
- Konstruksi: 73,37%
- Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial: 70,09%