Rupiah Ditutup Menguat, Investor Respons Positif Pidato Nota Keuangan Prabowo
Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan Jumat (14/8). Penguatan rupiah terjadi di tengah respons positif investor terhadap pidato Presiden Prabowo Subianto dalam rangkaian Sidang Tahunan MPR, Sidang Bersama DPR dan DPD, serta Rapat Paripurna DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.
Rupiah di pasar spot berakhir di level Rp 17.827 per dolar AS, menguat 0,28% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.877 per dolar AS.
Prabowo telah menyampaikan Pidato Kenegaraan pada Jumat (14/8) pagi. Agenda kemudian dilanjutkan dengan penyampaian keterangan pemerintah atas RUU APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya dalam Rapat Paripurna DPR.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai respons pasar terhadap pidato RAPBN Presiden Prabowo cenderung positif, meski investor masih bersikap hati-hati.
"Rupiah menguat terhadap dolar AS dan IHSG naik oleh respons positif investor pada pidato RAPBN Presiden Prabowo. Saya melihatnya sebagai cautiously positif," ujar Lukman.
Sebelumnya, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.800-Rp 17.900 per dolar AS pada perdagangan Jumat.
Dalam pidato Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, Prabowo menyebutkan sejumlah asumsi makro. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6%, lebih tinggi dibandingkan target 2026 yang sebesar 5,4%.
Inflasi ditetapkan sebesar 2,5% atau sama dengan target inflasi pada 2026. Adapun nilai tukar rupiah pada 2027 ditargetkan sebesar Rp 17.500 per dolar AS, lebih tinggi dibandingkan dengan target 2026 sebesar Rp 16.500 per dolar AS.
Pemerintah juga menetapkan suku bunga obligasi pemerintah tenor 10 tahun sebesar 6,9% atau sama dengan target 2026. Harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar US$ 75 per barel, lebih tinggi dibandingkan dengan target 2026 sebesar US$ 70 per barel. Lifting minyak mentah ditetapkan sebesar 610 ribu barel per hari, sama seperti target 2026. Adapun untuk target lifting gas 954 ribu BOEPD, lebih rendah dibandingkan target APBN 2026 sebesar 984 ribu BOEPD.