BI Beri Insentif Hedging 12,5% demi Tarik Masuk Arus Modal Asing
Bank Indonesia (BI) memperluas kebijakan insentif lindung nilai (hedging) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah tersebut sekaligus bertujuan untuk mendorong aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.
Pjs Gubernur BI, Destry Damayanti mengatakan, insentif tersebut diberikan dalam bentuk pengurangan biaya atau premi untuk transaksi swap jual lindung nilai maupun swap beli lindung nilai kepada BI.
“Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, ada perluasan dari kebijakan kami terkait dengan lindung nilai untuk swap beli lindung nilai kepada Bank Indonesia sebesar 12,5%,” kata Destry dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (19/8).
Menurut dia, sebelumnya fasilitas tersebut hanya dapat digunakan untuk underlying berupa portfolio inflow. Kini, BI memperluas cakupannya sehingga dapat digunakan untuk pinjaman luar negeri yang dilakukan bank maupun foreign direct investment (FDI).
Perluasan tersebut berlaku untuk pinjaman dengan masa kontrak hingga tiga tahun. Sementara itu, transaksi swap lindung nilai dengan BI memiliki tenor 12 bulan dan dapat diperpanjang atau roll over hingga mengikuti masa kontrak pinjaman yang mencapai tiga tahun.
“Ini suatu bentuk perluasan dalam rangka juga untuk lebih menarik inflow masuk ke pasar keuangan kita,” ujarnya.
Destry menjelaskan, kebijakan insentif tersebut menjadi bagian dari langkah BI dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah penurunan imbal hasil instrumen keuangan domestik.
BI pada Agustus ini mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% selama dua bulan berturut-turut. Namun, bank sentral itu tetap mengeluarkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Salah satunya adalah memberikan insentif terhadap biaya lindung nilai bagi dana asing yang masuk ke Indonesia.
Dengan biaya hedging yang lebih rendah, BI berharap spread yang ditawarkan instrumen keuangan Indonesia tetap menarik bagi investor asing.
Destry mengatakan, dalam dua pekan terakhir, suku bunga atau yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terus mengalami penurunan. Kendati demikian, aliran dana asing masih terus masuk ke pasar keuangan domestik.
“Kalau kita lihat dalam dua minggu terakhir ini suku bunga SRBI atau yield SRBI terus mengalami penurunan, namun demikian inflow tetap masuk,” ungkap Destry.
BI mencatat investasi portofolio asing ke Indonesia telah mencapai net inflows US$ 1,8 miliar hingga pekan kedua Agustus. Nilai tersebut setara sekitar Rp 32,04 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.800 per dolar AS. Aliran modal tersebut tercatat sepanjang triwulan III 2026 hingga 14 Agustus dan terutama masuk ke instrumen SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN).
Menurut Destry, pemberian insentif biaya hedging diharapkan dapat menjaga daya tarik instrumen keuangan Indonesia bagi investor global, sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.