Dana Darurat atau Dana Pensiun, Mana yang Harus Didahulukan?
Bagaimana cara memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa mengorbankan kondisi keuangan pada masa tua? Pertanyaan ini kerap muncul ketika seseorang harus membagi penghasilan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari biaya hidup, dana darurat, hingga tabungan pensiun.
Penghasilan yang terbatas membuat setiap alokasi perlu diperhitungkan. Dana darurat dibutuhkan untuk menghadapi situasi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau penurunan pendapatan. Sementara itu, dana pensiun disiapkan agar seseorang tetap dapat memenuhi kebutuhan hidup ketika tidak lagi bekerja.
Founder DNA Finance sekaligus financial educator and consultant, Aliyah Natasya, menekankan pentingnya tanggung jawab pribadi dalam mempersiapkan masa depan.
“Kamu harus bertanggung jawab atas kebahagiaan diri kamu sendiri. Kebanyakan orang tidak bahagia karena hidupnya terlalu bergantung dengan orang lain. Your happiness is your own responsibility,” ujar Natasya dalam podcast Berkelas, Kamis (6/8).
Ia mengatakan dana darurat dapat menjadi penyangga ketika seseorang menghadapi pengeluaran mendadak atau kehilangan sumber pendapatan dan menjadi langkah awal dalam menjaga “kebahagian” tersebut. Karena itu, dana ini perlu disimpan dalam instrumen yang mudah dicairkan agar bisa digunakan kapan saja.
Menurut Natasya, dana darurat yang setara dengan 12 bulan biaya hidup dapat memberikan rasa aman ketika kondisi keuangan tidak menentu. Cadangan tersebut memberi seseorang waktu untuk memulihkan pendapatan tanpa harus terburu-buru berhutang atau menjual aset.
Sementara itu, dana pensiun disiapkan untuk kebutuhan jangka panjang. Perencanaan dana pensiun perlu memperhitungkan biaya hidup setelah berhenti bekerja, inflasi, tempat tinggal, dan sumber pendapatan pada masa tua.
Kedua dana ini memiliki tujuan berbeda, sehingga perlu disiapkan secara terencana. Dana darurat membantu menghadapi risiko dalam waktu dekat, sedangkan dana pensiun dibangun secara bertahap selama usia produktif.
Mencegah Kehabisan Dana saat Pensiun
Salah satu persoalan yang kerap muncul dalam perencanaan pensiun adalah penggunaan uang pesangon untuk membiayai kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan anak. Akibatnya, seseorang yang telah bekerja selama puluhan tahun justru memasuki masa pensiun tanpa dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
Situasi ini dapat memperpanjang siklus sandwich generation. Ketika orang tua tidak memiliki tabungan pensiun yang memadai, anak berpotensi menanggung biaya hidup mereka di tengah kewajiban finansialnya sendiri.
Persoalan lain adalah menunda pembelian rumah hingga masa pensiun. Seseorang yang baru berencana membeli tempat tinggal menggunakan uang pesangon berisiko menghadapi harga properti yang semakin tinggi.
Karena itu, kepemilikan rumah perlu masuk dalam perencanaan keuangan sejak usia produktif. Memiliki tempat tinggal sebelum pensiun dapat mengurangi beban pengeluaran pada masa tua. Namun, pembelian rumah tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan agar cicilan tidak menghambat persiapan dana darurat dan dana pensiun.
Menentukan Skala Prioritas Keuangan
Sebelum mulai berinvestasi, seseorang perlu memastikan kondisi keuangannya memiliki pondasi yang cukup. Langkah awalnya mencakup pengelolaan pengeluaran, penyediaan dana darurat, dan perlindungan terhadap risiko finansial.
Perlindungan dasar dapat dimulai dengan memastikan kepesertaan BPJS Kesehatan. Bagi pencari nafkah utama, asuransi jiwa berjangka atau term life juga dapat dipertimbangkan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga apabila pencari nafkah meninggal dunia.
Setelah itu, penghasilan dapat dialokasikan untuk kebutuhan rutin, tempat tinggal, pendidikan anak, dan dana pensiun. Besarannya perlu disesuaikan dengan pendapatan, tanggungan keluarga, kewajiban utang, serta kondisi keuangan masing-masing.
Natasya juga mengingatkan orang tua agar tidak menghabiskan seluruh anggaran untuk pendidikan anak hingga mengabaikan persiapan masa tua. Ia mengibaratkan prinsip tersebut dengan petunjuk keselamatan di pesawat.
“Sama seperti kalau pesawat kita terguncang, kenakan dulu masker di diri kita sendiri, baru selamatkan masker untuk anak kita. Anak kita punya opsi ratusan sekolah, tapi dana pensiun kita, kepada siapa kita harus berharap jika bukan dari hasil kerja keras kita sendiri?” kata Natasya.
Menurutnya, orang tua perlu menjaga kemandirian finansial sambil tetap memenuhi kebutuhan pendidikan anak sesuai kemampuan. Pilihan pendidikan dapat disesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga, termasuk melalui beasiswa atau institusi dengan biaya yang lebih terjangkau.
Persiapan pensiun sejak dini dapat mengurangi risiko ketergantungan finansial kepada anak ketika penghasilan berhenti.
Menyeimbangkan Self Reward dan Self Respect
Mengelola keuangan juga berarti menyeimbangkan keinginan menikmati hasil kerja saat ini dengan kebutuhan pada masa depan. Natasya membedakan dua prinsip dalam menggunakan penghasilan, yaitu self reward dan self respect.
Self reward merupakan bentuk apresiasi kepada diri sendiri melalui pengeluaran untuk hal-hal yang memberikan kesenangan. Sementara itu, self respect berarti menghargai diri sendiri dengan menyisihkan penghasilan untuk tabungan dan investasi masa depan.
“Di balik hasil kerja keras kamu, kamu harus menghormati dirimu sendiri. Self respect itu yang akan menyelamatkan kamu di masa depan,” ujar Natasya.
Artinya, seseorang tetap dapat menikmati hasil kerja keras tanpa mengabaikan kebutuhan jangka panjang. Pengeluaran untuk hiburan dan keinginan pribadi perlu disesuaikan dengan kemampuan setelah kebutuhan pokok, kewajiban, dan alokasi tabungan terpenuhi.