Edisi Khusus | Bulan Inklusi Keuangan

Morgan Housel Ungkap Kebiasaan yang Membuat Orang Bangkrut

Vecteezy.com/Thanakorn Lappattaranan
Morgan Housel, penulis buku The Psychology of Money,menyebut seseorang seringkali merasakan kesulitan keuangan meski memiliki penghasilan yang cukup.
Penulis: Magang
16/10/2026, 07.10 WIB

Seseorang seringkali merasakan kesulitan keuangan meski memiliki penghasilan yang cukup. Morgan Housel, penulis buku The Psychology of Money, mengatakan solusi masalah ini tidak selalu berkaitan dengan besarnya pendapatan. 

Hal tersebut berhubungan bagaimana cara seseorang memahami uang, mengendalikan keinginan, dan mengambil keputusan finansial juga berpengaruh terhadap kondisi keuangannya.

Housel dalam podcast bersama Mel Robbins di kanal Youtube-nya menyoroti persoalan tersebut. Dalam video yang membahas perilaku manusia dalam mengelola uang Itu, Housel mengatakan kesulitan finansial tidak selalu disebabkan oleh rendahnya kecerdasan, tetapi juga oleh pengabaian dan kebiasaan yang terus dipertahankan.

"Hal nomor satu yang membuat orang tetap bangkrut adalah ignorance, bukan karena kurang cerdas," ujar Housel dalam video podcast yang diunggah pada September 2025 itu. 

Kesadaran terhadap kondisi finansial, kemampuan mengendalikan perilaku konsumtif, dan keberanian mengevaluasi kebiasaan sendiri turut menentukan apakah seseorang dapat membangun kestabilan keuangan.

Dalam konteks keuangan, “pengabaian” ini tidak selalu berarti seseorang tidak memahami konsep investasi atau perencanaan keuangan yang rumit. Persoalannya bisa sesederhana tidak mengetahui kemana uangnya pergi setiap bulan.

Seseorang mungkin memiliki penghasilan tetap, tetapi tidak pernah mengevaluasi pengeluaran, menghitung cicilan, atau memeriksa berapa banyak uang yang tersisa setelah memenuhi kebutuhan pokok. Akibatnya, masalah keuangan baru disadari ketika saldo rekening menipis atau tagihan menumpuk.

Karena itu, memahami kondisi finansial menjadi langkah awal untuk memperbaiki pengelolaan uang. Mencatat transaksi, memeriksa saldo, dan membandingkan penghasilan dengan pengeluaran dapat membantu seseorang mengenali kebiasaan yang perlu diubah.

Bahaya “Treadmill” Perbandingan Sosial

Hausel juga mengatakan tekanan sosial dapat membuat seseorang merasa kehidupannya belum cukup baik, bahkan ketika kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi. Melihat orang lain membeli kendaraan baru, berlibur ke luar negeri, atau tinggal di hunian yang lebih mewah dapat memicu keinginan untuk memiliki hal serupa.

Housel menilai dorongan untuk terus mengikuti kehidupan orang lain menjadi salah satu penghambat seseorang dalam membangun kekayaan.
"Hal terbesar yang membuat orang tetap bangkrut adalah dorongan luar biasa untuk terus mengikuti gaya hidup orang lain, perasaan bahwa orang lain punya lebih banyak, lebih sukses, dan lebih bahagia dari kita," ujarnya.

Persoalannya, apa yang terlihat di permukaan tidak selalu menggambarkan kondisi keuangan seseorang secara utuh. Gaya hidup mewah yang ditampilkan orang lain belum tentu didukung tabungan yang cukup atau terbebas dari utang.

Jika keputusan belanja terus didasarkan pada perbandingan sosial, seseorang berisiko mengorbankan kebutuhan finansialnya sendiri demi mempertahankan citra di hadapan orang lain.

Hausel juga mengingatkan, keinginan mengikuti gaya hidup orang lain kelak dapat berkembang menjadi lingkaran yang sulit dihentikan. Setelah berhasil membeli barang yang sebelumnya diinginkan, seseorang mungkin kembali merasa tertinggal ketika melihat orang lain memiliki sesuatu yang lebih mahal atau lebih baru.

Housel menggambarkan kondisi ini sebagai social comparison treadmill, yakni perlombaan perbandingan sosial yang tidak memiliki garis akhir.
"Begitu Anda masuk ke dalam treadmill tersebut, permainan itu tidak ada akhirnya. Tidak ada jumlah uang yang bisa memuaskan jika tujuannya terus-menerus mengejar apa yang dimiliki orang lain," ucapnya.

Untuk keluar dari lingkaran tersebut, Hausel mengatakan seseorang perlu menetapkan ukuran keberhasilan finansialnya sendiri. Kebutuhan, tujuan hidup, dan kemampuan keuangan pribadi seharusnya menjadi pertimbangan utama, bukan pencapaian orang lain.

Ekspektasi yang Terus Meningkat

Masalah lain muncul ketika peningkatan penghasilan selalu diikuti peningkatan keinginan. Seseorang yang sebelumnya merasa cukup dengan penghasilan Rp5 juta per bulan, misalnya, belum tentu merasa lebih sejahtera setelah penghasilannya naik menjadi Rp10 juta jika pengeluarannya ikut meningkat. Kondisi itu membuat seseorang sulit merasakan kemajuan finansial karena standar kepuasannya terus berubah.

"Jika ekspektasi naik seiring dengan hasil, tidak ada logika dalam berjuang untuk mendapatkan lebih, karena Anda akan merasa sama saja setelah mengerahkan tenaga ekstra. Satu langkah maju mendorong tiang gawang dua langkah ke depan," ujarnya.

Pola ini dapat membuat seseorang terus bekerja lebih keras untuk memenuhi keinginan yang tidak pernah selesai. Padahal, peningkatan pendapatan semestinya dapat memperkuat kondisi keuangan apabila sebagian tambahan penghasilan dialokasikan untuk tabungan, investasi, dan kebutuhan masa depan.

Menetapkan batas pengeluaran dan mempertahankan sebagian pendapatan tambahan menjadi cara untuk mencegah kenaikan penghasilan hanya berakhir pada kenaikan gaya hidup.

Apalagi dengan kebiasaan di saat ini di mana banyak orang yang tidak menempatkan pertimbangan rasional untuk melakukan kegiatan berbelanja, seperti sekedar untuk mengalihkan perhatian dari tekanan pekerjaan, masalah pribadi, atau perasaan tidak menyenangkan.

Housel membahas perilaku ini sebagai binge spending, yaitu kebiasaan berbelanja secara berlebihan yang dapat digunakan sebagai pelampiasan emosi.

"Banyak orang melakukan binge spending sebagai katup pelepas stres, berpikir bahwa masalah mereka akan hilang dengan membeli barang-barang tersebut," katanya. 

Belanja mungkin memberikan kepuasan sesaat, tetapi tidak serta-merta menyelesaikan masalah yang mendasarinya. Ketika dorongan emosional menjadi alasan utama berbelanja, seseorang dapat mengeluarkan uang tanpa mempertimbangkan kondisi rekening maupun kebutuhan lain yang lebih penting.

Kebiasaan ini dapat dikendalikan dengan memberi jeda sebelum melakukan pembelian, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mengevaluasi alasan di balik keputusan belanja. Dengan begitu, uang tidak terus digunakan sebagai pelarian dari persoalan yang belum terselesaikan.

Kredit dan Ilusi Keterjangkauan

Kemudahan menggunakan kartu kredit dan layanan kredit konsumtif membuat seseorang dapat membeli barang tanpa harus membayar seluruh harganya pada saat transaksi. Kemudahan tersebut juga berisiko menciptakan ilusi bahwa suatu barang terjangkau, padahal kemampuan membayarnya belum tentu memadai.

Housel memperingatkan membeli barang dengan utang secara berulang dapat membentuk kebiasaan finansial yang merugikan.

Membeli barang yang sebenarnya tidak mampu dibayar, terutama dengan mengandalkan kredit, dapat menjerumuskan seseorang ke dalam utang dan memperburuk kondisi keuangannya pada masa mendatang.

Utang konsumtif menjadi semakin berisiko ketika digunakan untuk mempertahankan gaya hidup, bukan untuk memenuhi kebutuhan yang benar-benar penting. Jika cicilan dan bunga terus bertambah, sebagian penghasilan masa depan akan terikat untuk membayar pembelian masa lalu.

Karena itu, sebelum menggunakan kredit, seseorang perlu menghitung kemampuan membayar cicilan, memahami bunga dan biaya tambahan, serta mempertimbangkan apakah barang tersebut memang diperlukan.

Halaman:
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.