Waskita Terapkan 8 Strategi Penyehatan Keuangan, Bagaimana Progresnya?

Arief Kamaludin|KATADATA
Waskita Karya
Penulis: Andi M. Arief
Editor: Lavinda
4/11/2021, 20.45 WIB
PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) mengaku telah berhasil melakukan empat dari delapan strategi penyehatan keuangan perseroan hingga akhir kuartal III/2021. Keempat strategi yang dimaksud adalah Penyertaan Modal Negara (PMN), penjaminan pinjaman dan obligasi, restrukturisasi utang perseroan dan anak usaha, dan daur ulang aset atau asset recycling inti.
 
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyetujui PMN kepada perusahaan milik negera ini senilai Rp 7,9 triliun untuk penyelesaian tujuh ruas tol yang kini dikerjakan perseroan. Selain itu, Waskita telah mendapatkan penjaminan pinjaman dan obligasi dengan nilai kredit setidaknya Rp 13,6 triliun.
 
Secara rinci, emiten konstruksi pelat merah mendapatkan penjaminan kredit modal kerja senilai Rp8 triliun. Selain itu, perseroan juga mendapatkan penjaminan dari PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) untuk penerbitan obligasi senilai Rp 5,6 triliun.

"(Kedua penjaminan tersebut) untuk mengejar ketinggalan produksi di 2021. Jadi, dua bulan ini kami harus bekerja keras," kata Direktur Utama Waskita Destiawan Soewardjono dalam konferensi pers virtual, Kamis (4/11).

Pada saat yang sama, Waskita juga hampir rampung melakukan restrukturisasi pada seluruh anak usaha. Hal tersebut penting dilakukan Waskita agar tidak terjadi cross default akibat utang yang tercatat di anak usaha.

Sejauh ini, proses restrukturisasi utang Waskita secara konsolidasi telah mencapai level 92,35%. Secara rinci, seluruh utang perseroan telah berhasil direstrukturisasi dengan penandatanganan Master Restructuring Agreement (MRA) pada akhir kuartal III/2021, sedangkan restrukturisasi anka usaha yang belum rampung adalah PT Waskita Beton Precast Tbk.

Seluruh proses restrukturisasi utang di anak usaha ditargetkan dapat rampung selambat-lambatnya pada kuartal IV/2021.

Terakhir, WSKT telah berhasil melepas pemilikan pada 4 ruas tol hingga akhir September 2021, yakni Jalan Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi, Cinere-Serpong, Cibitung-Cilincing, dan Semarang-Batang. Valuasi keempat jalan bebas hambatan tersebut ditaksir mencapai Rp 6,8 triliun.

"(Divestasi) ini menyebabkan dekonsolidasi utang Waskita senilai Rp 6 triliun dan Waskita mendapatkan margin dari investasi ruas tol tersebut. Jadi, tidak ada dari 4 ruas yang dlepas [membuat Waskita] rugi," kata Destiawan.

WSKT menargetkan dapat melepas sekitar 6-7 ruas tol hingga akhir tahun ini. Oleh karena itu, Waskita sedang melakukan diskusi dengan Indonesia Investment Authority (INA) terkait divestasi tiga ruas tl milik WSKT.

Destiawan berujar diskusi tersebut akan berakhir secepatnya pada akhir kuartal IV/2021. Namun demikian, dia berharap ada proses transaksi terkait tiga ruas tol tersebut pada kuartal I/2022.


Berdasarkan data Waskita, total ruas yang dimiliki perseroan setelah proses divestasi mencapai 15 ruas dengan total panjang sekitar 758 kilometer. Destiawan menyatakan akan terus melepas pemilikan tol perseroan hingga 2025 untuk meringankan beban pada arus kas.

Destiawan memperkirakan beban kredit investasi dari pemilikan tol perseroan mencapai Rp 54 triliun. Adapun, divestasi akan melepas beban kredit tersebut dari arus kas perseroan, selain itu perseroan diperkirakan juga akan mendapatkan pemasukan lebih dari Rp 7 triliun.

Seperti diketahui, Waskita memiliki delapan strategi penyehatan keuangan perseroan. Selain kelima strategi di atas, tiga strategi lainnya adalah asset recycling khusus, transformasi bisnis, dan perbaikan tata kelola dan manajemen risiko.
Reporter: Andi M. Arief