Bio Farma akan Tambah Kapasitas Produksi Tes PCR Covid-19 Dua Kali

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Petugas kesehatan melakukan tes usap polymerase chain reaction (PCR) COVID-19 pada warga di Jakarta, Selasa (2/11/2021).
Penulis: Andi M. Arief
Editor: Lavinda
9/11/2021, 13.18 WIB
Perusahaan farmasi milik negara, PT Bio Farma (Persero), akan meningkatkan kapasitas produksi beberapa produk jenis Real Time-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) menjadi dua kali lipat dari kapasitas produksi eksisting.
 
Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan pihaknya telah memproduksi peralatan layanan RT-PCR sejak 13 bulan yang lalu atau sekitar Oktober 2020. Produk yang dimaksud adalah Bio Vial Transport Medium (BioVTM), PCR Multiplex (mBioCov), dan BioSaliva.
 
"(Kapasitas produksi) BioVTM yang eksisting 300.000 tube per bulan, sedang dinaikkan jadi 600.000 tube per bulan. Reagennya [mBioCov] dari 2,4 juta tes per bulan jadi 5 juta tes per bulan," katanya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR, Selasa (9/11/2021).
 
Produk Bio Farma untuk layanan RT-PCR lainnya, BioSaliva, akan dinaikkan dari kapasitas saat ini maksimal 40.000 kit per bulan menjadi 100.000 kit per bulan.
 
Selama 13 bulan berjalan, Bio Farma telah mendistribusikan 7,62 juta unit produk layanan RT-PCR. Di samping itu, mBioCov telah berkontribusi sekitar 40,5 % dari total pemeriksaan PCR nasional yang mencapai 16 juta tes.
 
Adapun, mBioCov telah dikembangkan sejak 2020 dan telah melalui uji komparasi validasi di 10 laboratorium milik Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan(Litbangkes) Kementerian Kesehatan. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mBioCov mencapai 45% dan dapat digunakan pada seluruh mesin PCR dengan waktu reaksi sekitar 45 menit.
 
Bahan reaksi atau reagen itu menyasar dua target gen yang bersifat conserved atau awet, sehingga efektif mendeteksi 12 mutasi virus, termasuk tipe Delta. Sementara itu, mBioCov mampu mendeteksi virus Covid-19 hingga 100% dengan tingkat sensitivitas di level 98%.
 
Di sisi lain, produksi Bio VTM menggunakan formula dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) asal Amerika Serikat dan dikembangkan secara independen oleh Bio Farma. Tujuan utama pengembangan produk ini dalah menekan importasi VTM yang digunakan untuk menyimpan sampel RT-PCR.
 
BioVTM mulai diproduksi dan didistribusikan sejak Agustus 2020 dengan TKDN di level 18%. Dengan demikian, ketersediaan pasokan kelengkapan pemeriksaan RT-PCR lebih terjamin lantaran diproduksi di dalam negeri.
 
Terakhir, Bio Farma telah meluncurkan produk pengambilan sampel RT-PCR tanpa metode yang invasif, yakni BioSaliva. Sampel yang diambil adalah cairan dari proses berkumur sampai pangkal tenggorokan.
 
Salah satu tujuan produk tersebut untuk meningkatkan efisiensi transportasi sampel dari lokasi pengambilan ke laboratorium. Pasalnya, sampel BioSaliva tidak perlu disimpan di suhu -20 Celcius, namun tetap menaati standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
 
Bio Farma mencatat penjualan alat RT-PCR mencapai Rp 283 miliar sepanjang semester pertama 2021. Adapun, pendapatan sektor swasta tercatat mencapai Rp 431 miliar.
Reporter: Andi M. Arief