Danantara Ungkap Strategi di Balik Rencana Merger Garuda (GIAA) dan Pelita Air

ANTARA FOTO/Fauzan/YU
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani memaparkan realisasi investasi triwulan II 2025 di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, Selasa (29/7/2025).
17/9/2025, 14.02 WIB

‎Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mengungkap rencana di balik penggabungan (merger) maskapai PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan Pelita Air. CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengatakan merger bertujuan untuk mengoptimalisasi aset perusahaan milik negara tersebut.

Menurut Rosan, saat ini Danantara masih mengkaji penggabungan Pelita Air sebagai anak usaha Pertamina itu dengan lini usaha sejenis melalui Garuda Indonesia. "Intinya kan untuk supaya lebih efisien, lebih meningkatkan produktivitas, dan juga mengoptimalkan aset-aset yang ada, baik dari segi jam terbangnya, dan part pesawat, dan lain-lain. Lagi dievaluasi semua," kata Rosan saat ditemui di Istana Kepresidenan Jakarta seperti dikutip Rabu (17/9). 

Rosan menjelaskan Danantara masih terus mendalami merger kedua maskapai agar operasional lebih efisien, produktif dan aset yang ada dapat dioptimalisasi. ‎"Lagi dievaluasi semua," tambah Rosan.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) menjajaki penggabungan anak usahanya, Pelita Air dengan Garuda Indonesia, sebab akan fokus dengan bisnis inti perusahaan, yakni migas dan energi terbarukan. Lini usaha di luar inti bisnis Pertamina akan dilepas atau digabungkan dengan perusahaan sejenis sesuai dengan roadmap yang dikendalikan Danantara.

Selain Pelita Air, Pertamina juga menyiapkan langkah serupa di sejumlah anak usaha lainnya seperti asuransi, kesehatan, hospitality, serta Patra Jasa, yang akan mengikuti peta jalan di Danantara. Lebih lanjut, Pertamina juga akan menggabungkan tiga anak usahanya, yakni Kilang Pertamina Internasional (KPI), Pertamina International Shipping (PIS), serta Pertamina Patra Niaga (PPN), dan ditargetkan rampung pada akhir 2025.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menjelaskan kondisi global menyebabkan permintaan terhadap minyak menurun. Sementara itu, produksi kilang semakin meningkat karena banyaknya kilang baru.

Menurut dia, mengecilnya margin keuntungan yang diperoleh Kilang Pertamina Internasional, berpengaruh kepada perusahaan Pertamina secara keseluruhan. Agar dapat beroperasi lebih efektif, Pertamina berencana menggabungkan entitas Kilang Pertamina Internasional, Pertamina Internasional Shipping, dan Pertamina Patra Niaga.

Sementara itu Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani Panjaitan, menyampaikan bahwa perseroan saat ini fokus pada penyehatan kinerja dengan memperbaiki ekuitas, melakukan restorasi armada, memulihkan ekosistem usaha, serta meningkatkan trafik penumpang. Adapun soal wacana konsolidasi BUMN sektor penerbangan, ia menyebut hingga kini masih berada pada tahap awal penjajakan.

“Dan terkait hal tersebut perseroan masih terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait,” ucap Wamildan dalam keterbukaan informasi BEI, Selasa (16/9). 

Terkait perkembangan proses merger, Wamildan menjelaskan rencana itu masih berada pada tahap awal diskusi dengan pihak-pihak terkait. Ia menyebut perkembangan lebih lanjut akan disampaikan apabila terdapat kemajuan signifikan terkait tahapan maupun realisasi dari strategi tersebut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila, Muhamad Fajar Riyandanu