Danantara Rampungkan Evaluasi Pelunasan Utang Whoosh, Siapkan Tiga Skema

ANTARA FOTO/Abdan Syakura/bar
Kereta cepat Whoosh melintas di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (31/7/2025).
Penulis: Andi M. Arief
16/10/2025, 19.18 WIB

Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, Rosan P Roeslani mengatakan lembaganya tengah mengevaluasi pelunasan utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh secara komprehensif. Rosan berencana memberikan tiga skema pelunasan utang setelah evaluasi tersebut rampung.

Menurut Rosan, pemilihan skema pelunasan utang tersebut akan dibicarakan bersama kementerian terkait, seperti Kementerian Perhubungan dan Kementerian Keuangan. Rosan mengaku telah menyampaikan proses evaluasi pelunasan utang Whoosh pada Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.

"Evaluasi ini akan segera kami finalisasi, setelah itu kami akan mengambil keputusan terbaik bersama kementerian teknis lainnya. Itu yang akan kami lakukan terkait pelunasan utang Whoosh," kata Rosan di Hotel JS Luwansa, Kamis (16/10).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai Danantara mampu menyelesaikan masalah utang Whoosh tanpa suntikan dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Menurut Purbaya, proyeksi pendapatan dari operasional Whoosh mencapai Rp 1,5 triliun per tahun. Di sisi lain, Danantara yang saat ini membawahi KCIC memiliki kemampuan untuk menyelesaikan utang KCIC tanpa bantuan pemerintah karena mengelola dividen BUMN.

“Karena Danantara terima dividen dari BUMN kan hamper Rp 80 triliun sampai Rp 90 triliun. Itu cukup untuk menutupi sekitar Rp 2 triliun (bunga) bayaran tahunan KCIC,” kata Purbaya di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (16/10).

Lebih jauh Purbaya mengatakan dividen BUMN yang dikelola Danantara juga masih ditempatkan dalam bentuk surat utang. Meski demikian, Purbaya mengatakan, CEO Danantara Rosan Roeslani masih melakukan kajian teknis untuk merumuskan skema penyelesaian utang yang tepat untuk KCIC.

Dua Opsi Penyelesaian Utang

Danantara telah mengusulkan dua alternatif untuk menyelesaikan masalah proyek utang Kereta Cepat Jakarta – Bandung (Whoosh). Opsi pertama yaitu menyerahkan aset infrastruktur milik PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) kepada pemerintah.  

"Kalau ini kan KCIC di bawah Danantara, mereka sudah punya manajemen sendiri, punya dividen sendiri," ungkap Purbaya dalam Media Gathering di Bogor, Jumat (10/10).

Dengan langkah ini, KCIC akan bertransformasi menjadi operator tanpa kepemilikan aset (asset-light), sementara kewajiban utang infrastruktur akan dialihkan kepada pemerintah dan dicatat sebagai beban APBN.

Sementara itu, opsi kedua memberikan tambahan modal penyertaan kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI yang berasal dari Danantara. Skema ini tidak akan membebani APBN karena pendanaannya berasal dari internal holding, dengan tujuan memperkuat kemandirian keuangan perusahaan, serta menjaga agar beban bunga dan kewajiban pembayaran utang tetap proporsional.




Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief