Rukun Raharja (RAJA) Pertimbangkan IPO Subholding Midstream dan Rights Issue
Emiten suami Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani, Happy Hapsoro, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) memberikan sinyal untuk mencatatkan perdana umum perdana saham atau initial public offering (IPO) subholding midstream-nya. Tak hanya itu, RAJA juga buka-bukaan soal kemungkinan untuk aksi rights issue.
Direktur PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), Ogi Rulino, menjelaskan bahwa pada segmen midstream, perusahaan memiliki tiga subholding utama. Pertama, PT Triguna Internusa Pratama (TIP) yang berfokus pada infrastruktur dan utilitas. Kedua, PT Petrotech Penta Nusa yang berperan sebagai entitas penunjang. Ketiga, untuk terminalnya dilakukan oleh PT Heksa Energi Mitraniaga.
Tak hanya itu Ogi juga menyebut sejak awal tahun, Rukun Raharja telah menunjuk BCG (Boston Consulting Group) sebagai konsultan strategis. Berdasarkan hasil kajian tersebut, perusahaan menilai perlu memperkuat fokus pada inti bisnis midstream.
“Kami berencana melakukan transformasi di segmen midstream ini. Mudah-mudahan pada akhir tahun, kami sudah bisa membentuk subholding baru yang lebih fokus di bidangnya,” kata Ogi dalam paparan publik secara virtual, Senin (27/10).
Ogi juga mengatakan RAJA memiliki empat lini bisnis utama yang terdiri atas upstream, midstream, downstream, dan new initiative. Pada segmen upstream, anak usahanya telah melantai di bursa melalui PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU).
Sementara itu, di segmen midstream, Rukun Raharja tengah melakukan pembenahan dengan membentuk subholding baru yang ditargetkan rampung sebelum akhir 2025 dan dapat beroperasi penuh pada awal 2026. Saat ini, proses penyelesaiannya masih berlangsung.
Ia juga mengatakan soal kemungkinan IPO subholding tersebut menyusul anak usahanya PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) yang sudah melantai di BEI pada awal tahun ini.
“Kami akan melihat peluangnya ke depan, kita akan melihat tentu dari market, dan juga kesiapan dari pihak kami sendiri,” ucap Ogi.
Langkah Strategis
Direktur Utama Rukun Raharja, Djauhar Maulidi, menjelaskan bahwa pembentukan sub holding di segmen midstream merupakan langkah strategis untuk memperkuat struktur bisnisnya.
Selama ini, kata Djauhar, entitas usaha di segmen tersebut masih tersebar dengan skala yang relatif kecil dan terfragmentasi. Melalui konsolidasi itu, perusahaan berupaya menjadikan bisnis midstream lebih solid dan tangguh ke depan.
“Jadi tentu kalau IPO kami melihat peluang. Apakah peluang itu ada, kami akan lihat. Kalau sudah bagus, sudah stabil income-nya, dan punya future, baik itu growth dan segala macam, tentu peluang itu akan kami eksorsis untuk dilakukan IPO. Tunggu saja,” kata Djauhar dalam kesempatan yang sama.
RAJA Jalankan 9 Proyek, Dari Mana Dananya?
Deputy Business Development Director PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), Wilson Kurniawan, menjelaskan bahwa pendanaan untuk sembilan proyek besar perusahaan sebagian dari ekuitas internal dan dukungan perbankan. Sejauh ini, Rukun Raharja belum memiliki rencana untuk menerbitkan obligasi.
Wilson menyebut beberapa proyek telah disiapkan dananya, seperti proyek akuisisi perusahaan perdagangan gas di Banten dan akuisisi dua perusahaan pelayaran telah mendapatkan pinjaman dari perbankan.
Sementara itu, untuk proyek berskala besar seperti pembangunan LNG plant, investasi infrastruktur di wilayah Indonesia Timur, serta akuisisi di sektor energi baru terbarukan (EBT), perusahaan masih dalam tahap finalisasi perhitungan kebutuhan dana
Meski begitu, Wilson menyebut bahwa pembiayaan rencana yang ada dalam pipeline RAJA akan menggunakan conventional financing yang bersumber dari ekuitas perusahaan serta dukungan pihak perbankan.
“Tapi tentu kami tidak menutup kemungkinan dari skema-skema pembiayaan yang non-konvensional, apakah itu menggunakan obligasi atau kami melakukan right issue atau apapun hal itu,” ucap Wilson.