Rencana Investasi Dipertanyakan Moody's, Begini Reaksi Danantara
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia merespons pengumuman yang dirilis Moody’s Rating pada Kamis (5/2) kemarin. Dalam pengumuman tersebut, lembaga pemeringkat kredit tersebut menurunkan outlook peringkat utang pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil.
Dalam penilaiannya, Moody’s juga menyebut struktur tata kelola, skema pembiayaan, serta prioritas investasi Danantara belum jelas. Merespons hal itu, CEO Danantara Indonesia, Rosan P Roeslani mengatakan, pihaknya menjadikan laporan Moody's tersebut sebagai pengingat yang konstruktif untuk terus memperkuat fondasi institusi, serta memperjelas arah kebijakan.
“Penyesuaian outlook tersebut sekaligus menegaskan pentingnya reformasi kelembagaan dan konsistensi kebijakan dalam melanjutkan agenda pembangunan nasional,” kata Rosan dalam keterangan resminya, Jumat (6/2).
Dia menuturkan, Danantara juga melihat outlook Moody’s tersebut untuk menjaga disiplin pelaksanaan sebagai kunci mempertahankan kepercayaan serta stabilitas jangka panjang.
Dalam pengumuman kemarin, peringkat investment grade Indonesia tetap dipertahankan oleh Moody's. Hal itu mencerminkan kepercayaan terhadap ketahanan makroekonomi, disiplin fiskal, serta prospek pertumbuhan jangka panjang Indonesia.
Rosan mengatakan sebagai sovereign wealth fund (SWF) yang baru didirikan, Danantara Indonesia tengah dalam fase pembangunan institusi yang bertumpu pada tata kelola yang kuat, proses investasi yang disiplin, serta manajemen risiko yang pruden sesuai praktik terbaik global.
Tak hanya itu Rosan mengklaim landasan ini terus diperkuat secara bertahap untuk menjaga kredibilitas institusi, meningkatkan kepercayaan pasar, dan menghasilkan kinerja yang berkesinambungan.
Adapun peta jalan tata kelola Danantara Indonesia difokuskan pada sejumlah prioritas utama. Pertama pelaksanaan struktur pengambilan keputusan dan fungsi pengawasan di seluruh siklus investasi dan pengelolaan portofolio berstandar global.
Kedua Danantara juga menerapkan kerangka manajemen risiko yang terpadu. Ketiga Rosan juga memastikan pelaksanaan investasi secara pruden dengan alokasi modal berbasis kelayakan komersial serta disiplin portofolio jangka panjang.
“Danantara juga akan meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan standar tata kelola di seluruh portofolio BUMN,” ucap Rosan.
Rencana Investasi Danantara Dipertanyakan
Sebelumnya Moody’s menilai pembentukan Danantara memunculkan ketidakpastian terkait sumber pendanaan, tata kelola, dan prioritas investasi. Lembaga pemeringkat itu menyoroti besarnya kewenangan Danantara dalam mengelola aset BUMN senilai lebih dari US$ 900 miliar atau sekitar 60% PDB nominal 2025.
Dengan mandat rasionalisasi BUMN, peningkatan kinerja, serta investasi sektor prioritas, Moody’s melihat koordinasi kebijakan yang belum solid berpotensi menekan kredibilitas kebijakan sekaligus meningkatkan risiko liabilitas kontinjensi bagi negara.
Moody’s juga menilai kewenangan Danantara dalam kebijakan dividen BUMN dapat membebani kesehatan keuangan perusahaan pelat merah, mengingat dividen menjadi sumber pendanaan utama. Adapun bank-bank BUMN tercatat meningkatkan pembayaran dividen sepanjang 2025.
Meski pemerintah telah menyiapkan kerangka hukum dan kelembagaan, Moody’s melihat masih ada ketidakjelasan terkait prioritas investasi, manajemen risiko, serta hubungan regulasi. Namun, lembaga itu memperkirakan penguatan kelembagaan ke depan dapat memperjelas tata kelola dan operasional Danantara.
“Kami akan terus memantau perkembangan efektivitas dan kredibilitas kebijakan, termasuk kerangka kebijakan fiskal dan moneter, evolusi Danantara, serta indikator kunci seperti aliran investasi asing, volatilitas nilai tukar dan suku bunga, pertumbuhan, dan inflasi,” tulis Moody’s.