Unilever (UNVR) Prediksi Kinerja Kuartal I 2026 Lesu meski Ada Imlek dan Lebaran
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) memprediksi kinerja keuangan perseroan pada kuartal pertama 2026 akan lesu. Padahal, dalam tiga bulan pertama tahun ini terdapat dua momen konsumsi besar, yakni Tahun Baru Imlek dan Hari Raya Idul Fitri.
Direktur Utama UNVR, Benjie Yap menjelaskan, perlambatan tersebut terutama dipicu oleh pergeseran waktu penambahan dan pengurangan stok pelanggan. Kondisi itu membuat aktivitas penambahan stok terjadi pada kuartal pertama. Sementara pengurangan stok bergeser ke kuartal kedua, bukan sebaliknya.
“Pergeseran waktu ini diperkirakan akan menekan pertumbuhan kuartal pertama 2026 sekitar 3%. Namun, di sisi lain akan mendorong pertumbuhan kuartal kedua sekitar 3%,” ujar Benjie dalam paparan kinerja kuartal IV 2025 UNVR yang digelar secara virtual, Kamis (12/2).
Menurut dia, pelemahan kinerja pada kuartal pertama bersifat sementara dan semata-mata disebabkan oleh faktor waktu. Sementara itu, kinerja kuartal kedua diproyeksikan akan lebih kuat seiring normalisasi siklus persediaan. Di luar faktor tersebut, UNVR tetap optimistis momentum pertumbuhan akan membaik sepanjang tahun.
Memasuki 2026, UNVR mengaku tetap fokus dan percaya diri dengan strategi yang dijalankan. Perseroan akan terus berinvestasi pada merek-merek utama dan saluran distribusi masa depan, sembari menjaga disiplin biaya dan kualitas eksekusi.
Untuk mengejar target pertumbuhan, UNVR mempertahankan sejumlah strategi utama. Di sisi portofolio produk, perseroan akan memperkuat merek-merek unggulan dan mengarahkan portofolio ke segmen dengan pertumbuhan lebih cepat.
Pada sisi distribusi, UNVR mendorong ekspansi di saluran e-commerce serta kanal kesehatan dan kecantikan yang tengah berkembang pesat. Perseroan juga akan memperluas jangkauan ke perdagangan umum serta mentransformasikan model pemasaran agar bisnis lebih menguntungkan dan berkelanjutan.
Dari sisi efisiensi, UNVR menempatkan peningkatan margin laba kotor sebagai prioritas. Perseroan akan melanjutkan peningkatan produktivitas melalui percepatan transformasi digital di seluruh lini bisnis, serta memastikan program efisiensi berjalan secara konsisten dari tahun ke tahun.
“Dan yang terpenting adalah budaya bermain untuk menang. Kami akan terus mendorong pola pikir bahwa kami ada di sini untuk bermain untuk menang, bahwa kami tahu cara menyeimbangkan pengambilan risiko, dan bahwa kami akan berupaya mencapai pertumbuhan yang kuat di atas pasar,” kata dia.
Sejalan dengan strategi tersebut, UNVR menargetkan belanja modal atau capital expenditure (capex) pada 2026 berada di kisaran 3% hingga 4% dari penjualan, meningkat dibandingkan realisasi 2025 yang sekitar 3%. Kenaikan Capex ini ditujukan untuk mendukung transformasi berkelanjutan, penambahan kapasitas seiring pertumbuhan volume penjualan, serta investasi pada format dan inovasi baru bagi konsumen.
Laba Bersih Naik
Sepanjang 2025, UNVR mencatatkan laba bersih Rp 7,64 triliun. Jumlah tersebut meningkat signifikan dengan kenaikan 126,87% dibandingkan dengan laba bersih UNVR pada 2024 senilai Rp 3,36 triliun.
Merujuk laporan keuangan hingga Desember 2025 yang diterbitkan perusahaan, UNVR membukukan penjualan bersih sebesar Rp 31,94 triliun, naik 4,31% dibanding pendapatan perseroan pada tahun sebelumnya sebesar Rp 30,62 triliun. Produk-produk UNVR mayoritas banyak dijual di pasar domestik dengan raupan dana sebesar Rp 31 triliun, dibandingkan dengan penjualan bersih impor sebesar Rp 942,13 miliar.
Hingga akhir 2025, kontributor terbesar perusahaan masih berasal dari segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh sebesar Rp 23,35 triliun. Sementara itu, segmen makanan dan minuman mencatatkan penjualan Rp 8,58 triliun.
Sementara itu, harga pokok penjualan perseroan tercatat naik dari Rp 16,06 triliun menjadi Rp 16,94 triliun secara tahunan atau year on year (yoy). Sehingga, laba bruto perseroan menjadi Rp 14,99 triliun dari Rp 14,55 triliun.
Kemudian, setelah dikurangi beban pemasaran dan penjualan sebesar Rp 7,39 triliun, beban umum dan administrasi sebesar Rp 2,96 triliun dan beban lain-lain sebesar Rp 44,68 triliun, alhasil perseroan mencetak laba usaha sebesar Rp 4,59 triliun.
Dari sisi neraca, total sset perusahaan sebesar Rp 20,01 triliun dan jumlah liabilitas sebesar Rp 15,54 triliun.