Danantara Targetkan Mulai Tender WtE Tahap Kedua Maret, Libatkan 7 Kota

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/tom.
Pemulung memilah sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (12/9/2025). Pemerintah mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) melalui revisi Perpres nomor 35 tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan yang akan diterbitkan pada September 2025.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
13/2/2026, 17.37 WIB

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara akan memulai tender proyek pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy (WtE) tahap kedua pada Maret 2026. Proyek ini direncanakan dibangun pada tujuh kota.

Chief Executive Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (CEO Danantara), Rosan Roeslani mengatakan, proses lelang akan dilakukan secara terbuka setelah ada kejelasan terkait penunjukan kota, kesiapan fasilitas serta ketersediaan pasokan sampah.

“Kurang lebih batch keduanya akan dimulai pada bulan Maret mungkin pertengahan atau akhir sesudah kami konsultasi dengan Pak Menko (Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto),” ujar Rosan dalam agenda Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2).

Rosan mengatakan, ketujuh kota tersebut akan dinilai kelayakan fasilitas infrastruktur dan kesediaan sampah terlebih dahulu. Barulah kemudian pihaknya akan membuka tender secara terbuka.

Adapun proses PLTSa tahap pertama telah dimulai sejak November tahun lalu. Rosan menargetkan pengumuman pemenang proyek tahap awal dilakukan pada akhir Februari 2026 setelah melalui pembahasan internal.

Rosan menyebut proyek WtE menjadi salah satu prioritas karena volume sampah di Indonesia mencapai sekitar 60 juta ton per tahun. Namun, sekitar 87% di antaranya belum dikelola dengan baik atau masih dibakar secara ilegal.

Ia menilai pengembangan PLTSa tidak hanya berkontribusi terhadap penyediaan energi listrik, tetapi juga memberi dampak besar terhadap kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan. 

“Jadi diharapkan Program Waste to Energy ini memiliki dampak yang sangat-sangat positif, kita tidak hanya melihat dari energi elektroniknya, justru dampak kesehatan, environment, health,” kata dia.

Rosan menambahkan, pihaknya telah mempelajari implementasi PLTSa di sejumlah negara seperti Cina dan Thailand. Di beberapa negara tersebut, fasilitas pengolahan sampah bahkan dibangun di kawasan permukiman karena tidak menimbulkan bau dan terintegrasi dengan ruang publik.

Dengan skema tersebut, teknologi pengolahan sampah diharapkan mampu menyerap timbunan sampah lama sekaligus mengurangi persoalan lingkungan di perkotaan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri