Menilik Tren Kinerja Emiten Baja KRAS, GGRP dan ISSP, Seperti Apa Kondisinya?
Kinerja emiten baja di Bursa Efek Indonesia menunjukkan tren beragam di tengah tekanan industri baja nasional. Tiga pemain utama di sektor ini yakni PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) dan PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) melaporkan kinerja berbeda setahun terakhir.
Industri baja domestik saat ini menghadapi tantangan besar akibat lonjakan biaya energi dan gangguan rantai pasok global yang dipicu tensi geopolitik, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah.
Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) menyebut kondisi tersebut berdampak langsung pada industri manufaktur dalam negeri, terutama bagi perusahaan dengan intensitas penggunaan listrik dan gas yang tinggi.
Selain itu, utilisasi industri baja nasional saat ini masih berada di kisaran 52%, jauh di bawah level ideal. Kondisi ini dipengaruhi mahalnya energi, tingginya impor baja serta belum optimalnya serapan pasar domestik.
Di tengah tekanan tersebut, lantas bagaimana kinerja ketiga emiten baja tersebut?
KRAS Bangkit Berkat Restrukturisasi
Emiten baja pelat merah Krakatau Steel mencatat pemulihan kinerja signifikan dalam setahun terakhir. Pada tahun buku 2025, emiten pelat merah ini membukukan laba bersih sebesar US$ 325,45 juta atau sekitar Rp 5,44 triliun. Capaian tersebut berbalik dari rugi US$ 154,71 juta pada 2024.
Perbaikan kinerja tersebut ditopang restrukturisasi keuangan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara. Pendapatan usaha KRAS sepanjang 2025 tercatat US$ 959,83 juta dengan laba bruto mencapai US$ 50,74 juta.
Perseroan juga mencatat pendapatan keuangan hampir US$ 520 juta serta keuntungan US$ 156,7 juta dari penyelesaian utang dipercepat. Volume penjualan baja naik 29% menjadi 944.562 ton.
Tren positif berlanjut pada kuartal pertama 2026. KRAS mencatat laba bersih US$ 18,18 juta berbalik dari rugi US$ 15,57 juta pada periode sama tahun lalu. Pendapatan naik menjadi US$ 262,36 juta dari US$ 234,76 juta secara tahunan.
Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan mengatakan perbaikan ini menjadi sinyal awal keberhasilan transformasi perusahaan. "Dengan demikian Krakatau Steel memiliki pondasi yang tangguh untuk mendukung kemandirian industri baja nasional,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Hingga Maret 2026, total produksi baja KRAS mencapai 360 ribu ton, didukung optimalisasi pabrik Hot Strip Mill dan Cold Rolling Mill.
Kinerja ISSP Hampir Melandai
Berbeda dengan KRAS, kinerja Steel Pipe Industry of Indonesia cenderung melandai. Pada tahun buku 2025, ISSP membukukan laba bersih Rp 534,24 miliar, hanya naik tipis 0,7% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 530,08 miliar.
Pendapatan perseroan turun menjadi Rp 5,93 triliun dari Rp 6,14 triliun pada 2024. Dalam tiga tahun terakhir, tren pendapatan ISSP menurun dari Rp 6,45 triliun pada 2023 menjadi Rp 6,14 triliun pada 2024 dan ternyata turun lagi pada 2025.
Penjualan domestik pipa baja tercatat Rp 5,74 triliun, turun dari Rp 5,94 triliun. Sementara penjualan ekspor naik tipis menjadi Rp 183,67 miliar.
Pada kuartal pertama 2026, laba bersih ISSP turun menjadi Rp 77,06 miliar dari Rp 84,53 miliar secara tahunan. Pendapatan juga menurun menjadi Rp 1,22 triliun dari Rp 1,28 triliun.
Manajemen menyebut tantangan industri sepanjang 2025 meliputi volatilitas harga baja global, fluktuasi harga bahan baku, tekanan nilai tukar serta siklus permintaan sektor infrastruktur dan energi.
Meski demikian, perseroan tetap melanjutkan ekspansi melalui pembangunan fasilitas Plant 7 di SPINDO Park yang difokuskan pada pengembangan produk berbasis teknologi manufaktur ramah lingkungan.
GGRP Bolak-Balik Untung Rugi
Kinerja paling tertekan dialami Gunung Raja Paksi. Perseroan yang mencatatkan rugi bersih US$ 36,83 juta pada 2025 atau setara dengan Rp 625,95 miliar. Kondisi tersebut berbalik dari laba US$ 122,27 juta pada tahun sebelumnya.
Penurunan tajam ini dipicu anjloknya penjualan menjadi US$ 187,35 juta dari US$ 351,79 juta. Pendapatan lain-lain juga turun drastis menjadi US$ 2,91 juta dari US$ 8,99 juta. Di saat bersamaan, perseroan mencatat beban lain-lain sebesar US$ 3,87 juta.
Manajemen GGRP menilai tekanan industri domestik masih cukup besar meski sektor logam dasar tetap menjadi industri strategis nasional. Mengacu data Badan Pusat Statistik, kontribusi industri logam dasar terhadap PDB industri pengolahan nonmigas mencapai 11,55% pada 2025.
Namun, tingkat utilisasi pabrik baja nasional masih berkisar 50%-52%, jauh di bawah tingkat efisiensi ideal sebesar 80%. Di sisi lain, impor baja mencapai 14,8 juta ton pada 2025, dengan pangsa impor terhadap kebutuhan nasional mendekati 55%. Manajemen mengatakan, kondisi tersebut menciptakan tekanan besar bagi produsen baja domestik, termasuk GGRP.
Pada kuartal pertama 2026, perseroan kembali membukukan laba sebesar US$ 1,26 juta, berbalik dari kondisi rugi yang dicatat perusahaan pada periode yang sama tahun sebelumnya senilai US$ 5,05 juta.
GGRP membukukan pendapatan yang naik menjadi US$ 46,24 juta dari US$ 43,51 juta. Pulihnya kinerja perseroan karena beban pokok penjualan ditekan dari US$ 45,19 juta menjadi US$ 42,24 secara yoy.
Kinerja Tiga Saham Emiten Baja
Jika dilihat dari pergerakan harga saham dalam setahun terakhir, emiten sektor baja menunjukkan performa positif. Secara tahunan ISSP, GGRP dan KRAS sama-sama mencatatkan kenaikan.
Saham ISSP mencatatkan kenaikan cukup solid. Pada 6 Mei tahun lalu, harga saham perseroan berada di level Rp 276 per saham. Sementara pada penutupan perdagangan Rabu (6/5), saham ISSP diperdagangkan di level Rp 436 per saham. Artinya, dalam setahun saham ISSP melonjak 57,97%.
Dalam periode tiga tahun terakhir, saham ISSP telah naik 77,24%. Meski demikian, penguatan signifikan baru mulai terlihat sepanjang 2025, setelah sebelumnya pergerakan saham cenderung stagnan.
Kinerja serupa juga ditunjukkan saham GGRP. Secara tahunan, saham perseroan naik 55,67%, dari Rp 194 per saham menjadi Rp 302 per saham.
Namun, jika ditarik selama tiga tahun, saham GGRP justru masih terkoreksi 30,73%. Saham ini sempat menyentuh level tertinggi Rp 675 per saham, sebelum anjlok ke Rp 212 hanya dalam kurun tiga bulan.
Penurunan tajam tersebut turut diikuti penghentian sementara perdagangan saham atau suspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) di Pasar Reguler dan Pasar Tunai sejak sesi I pada 31 Januari 2025.
Suspensi dilakukan karena perseroan belum memenuhi ketentuan dalam Peraturan Bursa Nomor I-A terkait pencatatan saham dan efek bersifat ekuitas, khususnya mengenai pemenuhan batas minimal kepemilikan saham publik atau free float.
Sementara itu, KRAS menjadi emiten dengan kenaikan paling tinggi di antara ketiganya.
Dalam setahun terakhir, saham Krakatau Steel melesat 110,53%. Pada 6 Mei 2025, saham KRAS berada di level Rp 133 per saham, sedangkan pada penutupan perdagangan hari ini ditutup di level Rp 280 per saham.
Sepanjang periode tersebut, saham KRAS bahkan sempat menyentuh level tertinggi Rp 424 per saham pada 17 November 2025, seiring sentimen positif dari restrukturisasi keuangan dan perbaikan kinerja operasional perseroan.