Proyek Fraksionasi Plasma Kemitraan INA dan SK Plasma Raih Penghargaan Global

Fasilitas Fraksionasi Plasma Indonesia
7/5/2026, 13.43 WIB

Fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia yang dikembangkan melalui kemitraan Indonesia Investment Authority (INA) dan SK Plasma melalui perusahaan patungan PT SKPlasma Core Indonesia, meraih penghargaan Social Infrastructure Deal of the Year, APAC pada IJGlobal Awards 2025.

Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kontribusi proyek dalam penguatan infrastruktur kesehatan nasional, khususnya dalam upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Produk Obat Derivat Plasma (PODP). Proyek ini juga dinilai berhasil mengintegrasikan keahlian, permodalan, dan kemitraan strategis untuk mendukung pengembangan sektor kesehatan jangka panjang.

IJGlobal Awards sendiri memberikan penghargaan kepada transaksi greenfield dan refinancing di sektor energi dan infrastruktur. Penilaian dilakukan oleh panel independen melalui proses evaluasi terstruktur yang mencakup aspek inovasi, dampak, dan eksekusi, dengan keputusan akhir berbasis konsensus.

Fasilitas fraksionasi plasma yang tengah dikembangkan di Karawang, Jawa Barat ini diharapkan menjadi tonggak dalam memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional. Setelah beroperasi, fasilitas tersebut akan memproses plasma darah menjadi terapi penyelamat jiwa seperti imunoglobulin dan albumin, sehingga meningkatkan ketersediaan obat esensial dalam negeri.

Sejak pengumuman investasi pada Desember 2024, proyek ini mencatat sejumlah kemajuan, termasuk pengembangan produk turunan plasma dari donor Indonesia serta progres pembangunan fasilitas yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Dari sisi pendanaan, proyek ini diperkuat fasilitas pinjaman sindikasi sebesar Rp3,7 triliun yang dipimpin PT Alo Bank Indonesia Tbk bersama PT Bank Mega Tbk.

Eddy Porwanto, Pengganti Sementara Ketua Dewan Direktur INA, menyampaikan, pengakuan ini mencerminkan pentingnya kolaborasi yang berkelanjutan dalam menjawab kebutuhan kesehatan yang krusial dan bersifat jangka panjang.

"Proyek fraksionasi plasma ini menunjukkan bagaimana kemitraan dapat menerjemahkan kebutuhan tersebut ke dalam solusi yang layak secara investasi dan dapat dieksekusi, sekaligus memperkuat kapabilitas layanan kesehatan secara berkelanjutan," imbuhnya dikutip Kamis (7/5).

Sementara itu, Hyunho (Ted) Roh, Presiden Direktur SK Plasma Core Indonesia, mengatakan, penghargaan tersebut menggambarkan kemajuan pengembangan kapasitas fraksionasi plasma di dalam negeri. Selama ini, Indonesia sangat bergantung pada impor untuk obat-obatan penting berbasis plasma seperti albumin dan imunoglobulin.

Melalui proyek ini, harapnya, produksi dalam negeri akan terealisasi, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup jutaan pasien.

"Dengan menyediakan pilihan terapi yang menggabungkan aspek keamanan, keberlanjutan, dan keterjangkauan dibandingkan dengan produk impor, inisiatif ini diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan standar layanan kesehatan nasional,” ulasnya.

Dari sisi perbankan, Yogi Bima Sakti, Chief Wholesale dan Treasury Alo Bank, turut menegaskan peran strategis pembiayaan proyek ini.

“Kami sangat bangga dapat memimpin fasilitas sindikasi pinjaman untuk proyek fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia ini. Penghargaan sebagai Social Infrastructure Deal of the Year, APAC pada program IJGlobal Awards 2025 merupakan validasi terhadap nilai strategis dari proyek ini,” ujar Yogi.

Lebih lanjut, Yogi menuturkan, keterlibatan Alo Bank bukan sekadar bentuk dukungan finansial, melainkan perwujudan komitmen dalam memperkuat kedaulatan kesehatan nasional melalui pembiayaan infrastruktur sosial yang inovatif.

"Kami percaya bahwa kolaborasi antara institusi keuangan domestik, investor global, dan otoritas pemerintah adalah kunci untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih terjangkau dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia," ungkapnya.

Secara keseluruhan, proyek ini mencerminkan model kolaborasi antara investasi institusional, keahlian industri global, dan dukungan lembaga keuangan domestik dalam memperkuat ekosistem infrastruktur kesehatan Indonesia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.