DBS: Nasabah Kaya Berpeluang Tumbuh di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
DBS Indonesia melihat segmen nasabah kaya atau wealth management akan terus bertumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi global seperti saat ini. Perkembangan tersebut terjadi seiring dengan naiknya literasi keuangan masyarakat Indonesia.
Head of Consumer Banking Segment & Liabilities Product DBS Indonesia, Natalina Syabana mengatakan, literasi masyarakat terhadap ekonomi dan investasi kini semakin meningkat. Selain itu, hadirnya berbagai instrumen investasi baru, termasuk dalam beragam mata uang turut mendorong minat nasabah terhadap produk wealth management.
“Orang Indonesia yang memang affluent itu akan tetap melihat lagi ke wealth management. Dan kami melihat nasabah DBS semakin tertarik pada produk-produk investasi,” kata Natalina dalam Media Luncheon di Jakarta, Kamis (19/6).
Menurut Natalina, kelompok affluent yang hanya sekitar 1% dari populasi Indonesia saat ini menguasai sekitar 70% aset domestik. Ke depan, segmen ini diperkirakan masih tumbuh sekitar 6% per tahun pada periode 2025–2030, seiring meningkatnya jumlah individu kaya dan percepatan literasi keuangan di Indonesia.
Sejalan dengan tren tersebut, Natalina mendorong nasabah untuk melakukan diversifikasi investasi, mulai dari obligasi, saham, emas, hingga produk reksa dana dan instrumen berbasis valuta asing.
Dia menuturkan, ketersediaan produk investasi dalam berbagai mata uang, seperti dolar AS, dolar Australia, hingga yuan Cina di DBS turut meningkatkan minat nasabah untuk mengeksplorasi instrumen baru.
“Dengan semakin banyaknya produk, nasabah jadi lebih ingin tahu. Apalagi kalau sudah masuk fixed income, mereka jadi lebih percaya diri untuk mencoba,” ujarnya.
Sementara Consumer Banking Director DBS Indonesia, Melfrida Gultom mengatakan, segmen wealth management tetap menunjukkan pertumbuhan meskipun kondisi pasar global dan domestik masih diliputi ketidakpastian.
Dia menilai, nasabah affluent tetap tumbuh meski terdapat tekanan di segmen bawah. DBS juga terus mencatat penambahan nasabah setiap tahun. “Kita tidak berhenti di wealth, karena selalu ada peluang. Kami juga melihat obligasi pemerintah masih menarik. Di setiap kondisi pasar, kami punya produk yang sesuai untuk nasabah,” kata Melfrida.
DBS Treasures mencatat kinerja positif hingga Mei 2026 dengan net profit after tax (NPAT) atau laba bersih setelah pajak tumbuh 289% secara tahunan atau year on year (YoY), melampaui target anggaran sebesar 157%.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan jumlah nasabah baru sebesar 73% YoY serta stabilnya tingkat wealth penetration. Pencapaian ini juga ditopang oleh peningkatan kepuasan nasabah dan efektivitas strategi investasi berbasis personalisasi.
Melfrida mengatakan perubahan perilaku nasabah affluent semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar global.
“Situasi ini menjadi perhatian kami, sehingga kami mengedepankan strategi wealth management berbasis insight yang cepat dan mendalam agar nasabah dapat mengambil keputusan investasi dengan lebih tepat,” ujarnya.
Strategi BDBS Wealth Management
DBS Indonesia adalah bagian dari DBS Group, salah satu pengelola kekayaan terbesar di Asia yang memiliki jaringan di Singapura, Hong Kong, Taiwan, Cina, India, dan Indonesia.
Natalina mengatakan, strategi wealth management DBS Treasures dijalankan melalui pendekatan advisory led dengan dukungan teknologi, insight global dan personalisasi layanan melalui relationship manager serta notifikasi digital.
“Pendekatan kami diwujudkan dalam kampanye Mitra Tepercaya untuk Setiap Tujuan Anda melalui insights-driven wealth management dan advisory yang sangat personal,” kata Natalina.
Natalina menambahkan, DBS juga menghadirkan program seperti DBS Expert Connection dan DBS NextGen Excursion. Program tersebut dirancang untuk mendukung pengembangan diri nasabah dan generasi penerus, termasuk dalam isu inovasi, kecerdasan buatan (AI), aset digital hingga praktik bisnis berkelanjutan.
Dia mengungkapkan, DBS memiliki program pertemuan nasabah DBS antarnegara yang ada di dalam cakupan DBP. Pada tahun lalu, DBS membawa nasabah Indonesia ke Hong Kong untung berjejaring agar networking nasabah DBS menjadi meluas.
Program ini membuka kesempatan nasabah DBS untuk mengambil peluang bisnis di luar negeri, memperluas jaringan dan meningkatkan kekayaannya.
Ke depan, DBS Indonesia berkomitmen memperkuat strategi wealth management berbasis insight, solusi yang lebih personal, serta inovasi investasi untuk mendukung pertumbuhan aset jangka panjang nasabah di tengah dinamika ekonomi global.