Bos Danantara Ungkap Nasib Utang BUMN Karya Rp 180 T, Aset Tak Cukup Buat Bayar
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia menyebut total utang BUMN Karya mencapai Rp 180 triliun. Meski begitu Danantara belum menemukan langkah pasti untuk menambal seluruh utang tersebut.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengatakan saat ini transformasi perusahaan BUMN Karya belum sepenuhnya berjalan. Apalagi persoalan utang yang kini membebani sejumlah perusahaan.
Dari tujuh perusahaan Karya yang berada di bawah Danantara, Dony menyebut hanya tiga yang memiliki kondisi keuangan sehat, yakni PT Nindya Karya, PT Brantas Abipraya, dan PT Hutama Karya. Dony pun mengatakan Danantara berupaya menjaga ketiga perusahaan itu agar tidak terseret ke persoalan keuangan serupa yang membelit BUMN Karya lainnya.
“Karya ini tidak hanya punya masalah di induknya, tetapi juga punya masalah di anak-anaknya. Inilah makanya proses perbaikan karya ini harus satu persatu. Dan dampaknya ini juga kami pikirkan,” ucap Dony dalam YouTube CNBC Indonesia, dikutip Rabu (2/9).
Dony mengatakan empat BUMN Karya lainnya masih menghadapi persoalan keuangan yang cukup dalam. Namun, Dony menyebut restrukturisasi tak mau hanya bersifat sementara, apalagi jikalau hanya memperbaiki citra laporan keuangan.
Menurutnya, pembenahan harus dilakukan secara fundamental, termasuk dengan menyusun ulang peta jalan bisnis masing-masing perusahaan. Persoalannya, kata Dony, aset BUMN Karya pun tak mampu menutup utang jumbo itu.
“Ada utangnya, asetnya tidak cukup untuk meng-cover utangnya. Ini kan persoalan yang harus diselesaikan satu persatu untuk karya ini,” kata Dony.
Setelah lebih dari enam bulan mengkaji berbagai skenario restrukturisasi, Danantara menargetkan penyelesaian persoalan BUMN Karya dapat dilakukan pada akhir 2026.
Namun, Dony menyebut proses itu ada biaya yang harus ditanggung, termasuk potensi penghapusbukuan atau write-off terhadap sejumlah aset maupun pinjaman.
Dony mengatakan koreksi pembukuan yang telah dilakukan Danantara mencapai Rp 135 triliun dalam proses transformasi BUMN. Di luar koreksi itu, Danantara masih harus menyelesaikan persoalan keuangan BUMN Karya yang berpotensi kembali membutuhkan write-off karena terdapat aset maupun pinjaman tak bisa tutup utangnya.
“Nah ini juga kita harus menghitung berapa besar potensi write-off yang harus kita lakukan dalam perusahaan-perusahaan karya kita,” ucap Dony.