Kinerja BRI Makin Solid, Penyaluran Kredit Capai Rp1.646 Triliun di Kuartal II

BRI
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi saat Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan II 2026 di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin (31/8/2026).
3/9/2026, 11.39 WIB

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat pertumbuhan penyaluran kredit yang lebih tinggi dibandingkan industri perbankan nasional hingga kuartal II 2026. Total kredit yang disalurkan BRI mencapai Rp1.646 triliun, tumbuh 16,2% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Capaian tersebut meningkat dari Rp1.417 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan kredit BRI juga berada di atas pertumbuhan kredit perbankan nasional yang mencapai 12,7% yoy.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengatakan pertumbuhan kredit tersebut menunjukkan intermediasi BRI masih berjalan solid dalam menopang aktivitas ekonomi nasional. Menurutnya, capaian tersebut juga menjadi hasil dari berbagai agenda transformasi yang telah dijalankan perseroan.

Hal tersebut disampaikan Hery dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan II 2026 di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin (31/8). Dalam acara tersebut turut hadir Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu R.K., Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi, Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto, dan Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti.

“Berbagai agenda transformasi BRI bukan hanya rencana strategis ke depan, melainkan juga sudah kami eksekusi dan menunjukkan hasil yang positif terhadap kinerja BRI. Bisnis tumbuh semakin kuat, intermediasi meningkat, rasio kredit bermasalah menurun dan pada saat yang sama pertumbuhan tersebut mampu kami konversikan menjadi peningkatan profitabilitas,” ujar Hery.

Pertumbuhan kredit tersebut ikut menopang peningkatan aset BRI. Hingga akhir Juni 2026, total aset perseroan mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7% yoy.

Dari sisi pendanaan, BRI menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.581 triliun, naik 6,7% yoy dari Rp1.482 triliun pada kuartal II 2025. Struktur pendanaan juga menunjukkan perbaikan, dengan rasio current account and savings account (CASA) meningkat dari 65,5% menjadi 67,6%.

Kualitas Kredit BRI Tetap Terjaga

Ekspansi kredit BRI berlangsung dengan tetap memperhatikan kualitas aset. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tercatat 2,9% pada kuartal II 2026, membaik dari 3% pada kuartal sebelumnya.

Perbaikan kualitas kredit juga tercermin dari penurunan cost of credit. Rasio tersebut turun dari 3,4% pada kuartal I menjadi 3,1% pada kuartal II 2026 atau membaik sekitar 30 basis poin.

Hery mengatakan perseroan berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit, kualitas aset, dan profitabilitas. Pertumbuhan kredit, menurutnya, perlu tetap dibarengi dengan pengelolaan risiko yang memadai agar dapat menopang kinerja BRI secara berkelanjutan.

Growth is back, strong. Kualitas pertumbuhan dari sisi risiko tetap kami jaga dan kami optimistis ke depan,” ujar Hery.

BRI melihat masih terdapat ruang untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ke depan. Perseroan akan melanjutkan transformasi bisnis dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan tata kelola.

Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, profitabilitas, dan keberlanjutan, sekaligus memperkuat peran BRI dalam mendukung perekonomian Indonesia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.