Jerman Krisis, Rupiah Kian Sulit Menguat
KATADATA ? Kurs rupiah akan semakin sulit menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring melemahnya perekonomian Jerman. Negara yang dipimpin Kanselir Angela Merkel tersebut merupakan jangkar bagi perekonomian di kawasan Euro.
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada A. Tony Prasetiantono mengatakan, ekonomi Jerman yang terancam krisis membuat dolar AS semakin perkasa.
?Jika dolar makin kuat, mata uang negara-negara lainnya akan semakin tertinggal. Rupiah akan semakin melemah,? kata dia seusai menghadiri seminar bertajuk ?Taking Indonesia?s Economy to the Next Level? di Jakarta, Jumat (10/10).
(Baca: Target Ekspor Akan Direvisi Lagi karena Jerman Terancam Krisis)
Dalam sebulan terakhir, sejumlah mata uang utama dunia melemah terhadap dolar AS. Kurs euro tercatat turun 1,9 persen, poundsterling turun 0,94 persen, yen Jepang turun 1,1 persen, dolar Australia turun 4,7 persen, serta won Korea turun 3,3 persen.
Sementara rupiah tercatat turun 3,3 persen, termasuk kurs yang mengalami pelemahan terburuk di antara negara-negara dengan pasar yang beru berkembang (emerging market) versi Bloomberg. Adapun yang terburuk adalah rubel Rusia dan real Brasil masing-masing sebesar 7,5 persen dan 4,6 persen. (Baca: RI Akan Jadi Produsen Otomotif Dunia)
Dalam pandangan Tony, penyebab terbesar pelemahan rupiah disebabkan situasi politik di dalam negeri yang tidak pasti. Menurutnya, secara fundamental perekonomian Indonesia tidak terlalu buruk. Ini terlihat dari inflasi yang masih berada di level 4,53 persen (yoy), cadangan devisa US$ 111,164 milliar, dan pertumbuhan ekonomi yang masih di atas 5 persen.
?Jadi kalau rupiah melemah pasti karena sentimen politik di parlemen,? ujarnya.
Tony memperkirakan, rupiah akan berada pada kisaran Rp 12.000 per dolar AS. Namun, jika kabinet mendatang sesuai ekspektasi pasar, maka rupiah bisa mengarah ke Rp 11.900 per dolar AS pada akhir tahun. (Baca: Kisruh Politik, BEI Revisi Target IPO)
Deputy Country Director Asian Development Bank (ADB) Indonesia Edimon Ginting mengatakan, perlambatan ekonomi Jerman akan berpengaruh pada kinerja ekspor Indonesia. Jerman merupakan salah satu tujuan utama ekspor Indonesia di Uni Eropa.
?Karena itu fokus (Indonesia) harus lebih besar ke investasi (langsung) untuk mendorong kembali pertumbuhan (ekonomi),? kata Edimon.