Rupiah Makin Loyo, Dolar AS Sempat Tembus Rp 17.800

Agustiyanti
26 Mei 2026, 11:03
rupiah, dolar, dolar AS, rupiah melemah
Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah sempat menembus 17.800 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Selasa (26/5). Ini adalah level terburuk rupiah sepanjang sejarah. 

Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 2 poin di level 17.746 per dolar AS, tetapi terus melemah hingga mencapai 17.803 per dolar AS pada pukul 09.34 WIB. Kurs rupiah sepanjang pagi ini bergerak di level 17.745 hingga 17.834 per dolar AS dan bertengger di posisi 17.790, melemah 0,24% hingga pukul 10.48 WIB. 

Mayoritas mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS pada waktu yang sama. Ringgit Malaysia melemah 0,33%, baht Thailad 0,29%, peso Filipina 0,22%, yuan Cina 0,04%, dan yen Jepang 0,01%. Sedangkan won Korea Selatan dan dolar Taiwan menguat masing-masing 0,35% dan 0,07%. 

Meski demikian, kurs rupiah terpantau melemah sepanjang tahun ini terhadap sejumlah mata uang regional. Rupiah telah melemah lebih dari 9% terhadap yuan Cina dan ringgit Malaysia, serta melemah 5% terhadap yen Jepang dan 3% terhadap baht Thailand. 

Mengapa Rupiah Lebih Keok Terhadap Yuan dan Ringgit?

Yuan dan ringgit menjadi dua mata uang yang justru menguat terhadap dolar AS di tengah perang Iran. Tak heran, kurs rupiah yang keok terhadap dolar AS, melemah lebih dalam terhadap kedua mata uang ini. 

Mengutip The Edge Malaysia, penguatan ringgit terjadi karena masuknya modal asing di pasar saham maupun investasi langsung di Negeri Jiran ini. Sektor jasa keuangan, industri, dan perkebunan menjadi primadona.

Sejak awal tahun hingga pertengahan bulan ini, investor asing telah melakukan pembelian bersih lebih dari 3 miliar ringgit Malaysia atau sekitar Rp 13 triliun di pasar saham Malaysia. 

Sementara itu, yuan Cina menguat ke level tertingginya terhadap dolar AS dalam tiga tahun terakhir pada (25/5). Penguatan yuan kemarin terjadi seiring meningkatnya harapan damai terhadap perang Iran dan AS.

Namun, penguatan yuan yang mencapai hampir 3% terhadap dolar AS pada tahun ini, terutama didorong oleh meluasnya penggunaan mata uang ini sebagai pengganti dolar AS dalam perdagangan internasional. 

Beberapa lembaga investasi global juga telah merevisi perkiraan yuan mereka ke atas, didorong oleh daya saing ekspor Cina dan hubungan perdagangan yang stabil dengan AS, ekonomi terbesar di dunia.

HSBC telah menaikkan perkiraannya menjadi 6,65 yuan per dolar pada akhir tahun dari 6,75 yuan per dolar AS sebelumnya. Selain ekspor yang sangat kompetitif, HSBC melihat internasionalisasi yuan, diversifikasi jangka panjang dari USD, dan penyeimbangan kembali ekonomi sebagai alasan struktural domestik utama yang mendukung yuan.

"Secara eksternal, hubungan ekonomi AS-Tiongkok telah menjadi stabil dan lebih konstruktif sejak Mei 2025," kata analis HSBC dalam sebuah catatan.

Deutsche Bank juga melihat pertumbuhan impor Tiongkok yang kuat tahun ini akan membuka jalan bagi penguatan yuan lebih lanjut. "Lonjakan impor produk hulu Tiongkok kemungkinan akan diikuti oleh peningkatan lebih lanjut dalam pesanan ekspor, atau pemulihan permintaan domestik, atau keduanya," kata ekonom Deutsche Bank Yi Xiong dan Deyun Ou dalam sebuah catatan.

Perkiraan dasar Deutsche Bank adalah mata uang tersebut akan menguat menjadi 6,55 yuan per dolar pada akhir tahun 2026 dari sebelumnya 6,7.

Goldman Sachs juga melihat ruang lingkup untuk penguatan yuan lebih lanjut dan lebih lama. Proyeksi ini didukung oleh surplus eksternal Cina yang belum pernah terjadi sebelumnya dan daya saing ekspor yang kuat.

Terlepas dari hambatan dari perang Iran dan biaya energi yang lebih tinggi, Goldman mengatakan prospek jangka menengah tetap positif, didukung oleh investasi global yang diharapkan dalam keamanan energi dan energi terbarukan, yang akan menguntungkan ekspor China.

Bank AS tersebut memperkirakan yuan akan mencapai 6,80, 6,70, dan 6,50 per dolar dalam tiga, enam, dan 12 bulan, dibandingkan dengan 6,85, 6,80, dan 6,70 sebelumnya.

Mengutip Global Market Investor,  Perang Iran dinilai berhasil mempercepat kebangkitan yuan Tiongkok dalam perdagangan global. 

Nilai rata-rata transaksi harian yang diselesaikan melalu Sistem Pembayaran Antar Bank Lintas Batas atau CIPS telah melonjak dari sekitar 300 miliar yuan per hari pada tahun 2021 menjadi rekor 920 miliar yuan pada Maret 2026.

CIPS adalah sistem pembayaran lintas batas Tiongkok, yang diluncurkan pada tahun 2015 sebagai alternatif infrastruktur keuangan Barat.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...