Tren Kenaikan Harga Berlanjut, BI Prediksi Inflasi Tahun Ini 4,6%

ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/rwa.
Ilustrasi. BI memperkirakan, inflasi fundamental yang tercermin dari inflasi komponen inti masih terkendali di dalam sasaran target tak lebih dari 4%.
Penulis: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
21/7/2022, 15.33 WIB

Bank Indonesia merevisi ke atas perkiraan inflasi tahun ini dari semula 4,2% menjadi 4,5%-4,6%, jauh dari target yang semula ditetapkan sebesar 2%-4%. Meski demikian, bank sentral memperkirakan inflasi fundamental yang tercermin dari inflasi komponen inti masih terkendali di dalam sasaran target tak lebih dari 4%.

"Tekanan inflasi ke depan tentu saja lebih bersumber dari sisi penawaran yaitu harga pangan dan energi yang tidak disubsidi. Dengan perkembangan harga komoditas global yang terus naik,  kami perkirakan inflasi pada akhir tahun bisa lebih tinggi dari 4,2%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli, Kamis (21/7).

BI memperkirakan, kenaikan harga pangan yang termasuk kelompok inflasi harga yang bergejolak dan energi yang merupakan harga yang diatur pemerintah mendorong inflasi secara keseluruhan melampaui target. Sementara komponen inflasi inti yang tidak menghitung lonjakan harga pangan dan energi, masih akan tetap dalam sasaran target maksimal 4% pada tahun ini.

Perry menyebu,t inflasi IHK sudah melampaui target bank sentral pada bulan Juni  sebesar 4,35% secara tahunan. Namun, inflasi inti masih di bawah titik tengah target di 2,63%. 

Kenaikan inflasi umum pada bulan  laludidorong oleh kenaikan harga pangan akibat lonjakan harga komoditas di tingkat global dan berlanjutnya gangguan rantai pasokan. Inflasi harga bergejolak yang menghitung kenaikan harga pangan, bahkan sudah melonjak di atas 10% secara tahunan.

Inflasi pada kelompok harga diatur pemerintah juga naik, tetapi kenaikannya lebih didorong oleh harga energi yang tidak disubsidi pemerintah.  BI dalam beberapa keterangan sebelumnya berulang kali mengapresiasi langkah pemerintah menambah anggaran subsidi tahun ini sehingga inflasi tidak melonjak signifikan seperti di negara lain.

"Inflasi inti 2,63% menunjukkan permintaan di dalam negeri meningkat tetapi masih terpenuhi dengan kapasitas produksi nasional, disini lah mengapa inflasi fundamental yang tercermin dari inflasi inti masih terkelola," kata dia.

Data inflasi inti menjadi pertimbangan utama bank sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter khususnya suku bunga acuan. Seiring inflasi inti yang masih terkelola tersebut, Perry Cs masih mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,5% pada pertemuan bulan ini. Suku bunga rendah tersebut sudah dipertahankan selama 17 bulan terakhir di tengah langkan bank sentral lain menaikkan suku bunga seperti terlihat dalam databoks di bawah ini.

Reporter: Abdul Azis Said