Ekonomi Jepang Lesu, Aktivitas Pabrik Melambat
Aktivitas pabrik di Jepang tumbuh melambat ke level terendah dalam 19 bulan terakhir pada Agustus karena penurunan produksi dan pesanan baru semakin dalam. Ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan dari kenaikan terus-menerus dalam biaya bahan baku dan energi serta melemahnya permintaan global.
Aktivitas di sektor jasa terkontraksi untuk pertama kalinya dalam lima bulan. Penurunan bisnis baru menimbulkan kekhawatiran tentang lesunya permintaan di dalam negeri.
Angka Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis The Jibun Bank Flash turun ke ke level 51 pada bulan ini dari 52,1 pada Juli. Ini menandai ekspansi paling lambat sejak Januari tahun lalu. Adapun angka 50 memisahkan pada PMI memisahkan kondisi manufaktur yang terkontraksi dari ekspansi.
Data utama menunjukkan output dan pesanan baru secara keseluruhan menurun. Pesanan baru menyusut pada tingkat tercepat dalam hampir dua tahun.
Optimisme tentang kondisi tahun depan mendukung data PMI sedikit positif. Survei menunjukkan, produsen hanya menjadi sedikit kurang optimis dengan kondisi ke depan dibandingkan bulan sebelumnya.
"Data Agustus menandakan pembacaan terlemah kedua dalam indeks komposit sepanjang tahun ini, meskipun tingkat penurunannya rendah," kata Usamah Bhatti, ekonom di S&P Global Market Intelligence, yang menyusun survei tersebut.
"Yang menjadi perhatian adalah jumlah bisnis baru yang diterima oleh perusahaan sektor swasta, yang berkurang untuk pertama kalinya dalam enam bulan dan menunjukkan kelemahan lebih lanjut yang akan datang," kata dia.
Ekonomi Jepang pada kuartal kedua tahun ini hanya tumbuh 2,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, lebih lambat dibandingkan prediksi para analis. Pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga.
Laju ekonomi kuartal II 2022 menandai kenaikan tiga kuartal berturut-turut, tetapi lebih rendah dari proyeksi para analis sebesar 2,5%. Kinerja perekonomian Jepang pada April-Juni tertahan oleh kembali meningkatnya kasus Covid-19, Perlambatan pertumbuhan global, kendala pasokan dan kenaikan harga bahan baku.