Pemerintah Bayar Utang, Cadangan Devisa Anjlok jadi US$ 134,9 M

KATADATA/ Arief Kamaludin
Ilustrasi. Penurunan posisi cadangan devisa juga dipengaruhi oleh kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Penulis: Zahwa Madjid
Editor: Agustiyanti
6/10/2023, 12.49 WIB

Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir September 2023 mencapai US$ 134,9 miliar atau turun dari posisi Agustus 2023 sebesar US$ 137,1 miliar. Penurunan posisi cadangan devisa tersebut, antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menjelaskan, penurunan posisi cadangan devisa juga dipengaruhi oleh kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah. Ini dilakukan BI sebagai langkah antisipasi dampak rambatan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. 

Meski turun, Erwin menjelaskan, bahwa posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. 

“Bank Indonesia menilai, cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” kata Erwin dalam keterangan resminya dikutip Jumat (6/10).

Melansir Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah 0,08% ke level 15.630 hingga pukul 12.45 WIB.

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra menjelaskan, pengaruh eksternal memang biasanya lebih besar dibandingkan internal untuk pergerakan rupiah terhadap dolar AS.

"Saat ini perhatian atau sentimen pasar masih fokus ke ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi bank sentral AS," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Jumat (6/10).

Cadangan devisa BI terus menurun sejak Juli 2023. Bank Indonesia sebelumnya mencatat, cadangan devisa pada akhir Agustus mencapai US$ 137,1 miliar, turun US$ 500 juta dibandingkan posisi akhir Juli sebesar US$ 137,7 miliar. Penurunan cadangan devisa, antara lain disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah. 

Reporter: Zahwa Madjid