Rupiah Berpotensi Melemah, Pasar Waspada Perlambatan Ekonomi Global

Fauza Syahputra|Katadata
Petugas menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Dewata Inter Money Changer, Jakarta, Jumat (14/6/2024). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup di angka Rp16.412 per dolar AS, melemah 142 poin atau 0,87 persen dari perdagangan sebelumnya sebesar Rp16.270.
2/8/2024, 09.30 WIB

Sejumlah analis memperoyeksikan adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada hari ini. Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan hal tersebut karena pada pagi ini terjadi penguatan dolar AS. 

“Potensi pelemahan rupiah kembali ke area Rp 16.300 dengan potensi support di sekitar Rp 16.20 per dolar AS hari ini,” kata Ariston kepada Katadata.co.id, Jumat (2/8). 

Berdasarkan data Bloomberg pukul 08.47 WIB, rupiah berada pada level Rp 16.237 per dolar AS. Level tersebut menunjulan penurunan sebesar 23 poin atau 0,14%.

Ariston menyebut pada pagi ini terlihat indeks dolar AS menguat kembali ke level 104.40. Hal itu disebabkan oleh sentimen pasar terhadap aset berisiko yang negatif. 

“Indeks saham AS ditutup melemah semalam dan pagi ini indeks saham Asia bergerak menurun,” ujar Ariston. 

Ariston mengatakan, pelaku pasar kelihatannya mengantisipasi potensi pelambatan ekonomi global karena melihat sejumlah data AS semalam. Hal itu seperti data klaim tunjangan pengangguran yang meningkat dan data PMI manufaktur yang masuk ke fase kontraksi. 

Selain itu sikap Bank Sentral Jepang yang akan menaikan suku bunga juga bisa melambatkan ekonomi Jepang. Di Eropa, data PMI manufaktur Jerman juga masih dalam fase kontraksi. Sementara konflik tensi tinggi di Timur Tengah juga menambah kekhawatiran pasar.

Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, juga memproyeksikan adanya potensi pelemahan rupiah hari ini. “Sepertinya ada kekhawatiran depresiasi, harapannya akan terbatas antara Rp 16.170 hingga Rp 16.270 per dolar AS,” kata Fikri. 

Fikri menjelaskan beberapa hal yang akan mempengaruhi rupiah hari ini yaitu berbaliknya kenaikan DXY seiring keputusan penurunan BoE Rate yang mendorong depresiasi 0.99%. Selain itu juga S&P Manufacturing PMI di AS yang walaupun turun ke zona kontraksi, namun masih lebih baik dibanding ekspektasi market. 

Deflasi bulanan domestik yang masih terjadi dan mendorong real yield SUN10Y mencapai level tertinggi sejak 21 Juni 2024. Selain itu juga meningkatknay ketidakpastian investor di India seiring perubahan regulasi FAR. 

Analis komoditas dan pasar uang Lukman Leong memperkirakan rupiah juga akan melemah terhadap dolar AS yang rebound di tengah sentimen risk off di pasar equitas. “Investor mengantisipasi data pekerjaan AS NFP malam ini. Rupiah bisa berada pada level Rp 16.225 hingga Rp 16.325 per dolar AS,” ujar Lukman. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti