Potensi Donasi RI Tembus Rp 600 Triliun, Bappenas Soroti Peran Zakat dan Wakaf

ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/tom.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy memberikan sambutan pada pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tingkat Provinsi di Anjong Mota, Banda Aceh, Aceh, Rabu (9/7/2025). Musrenbang yang diikuti bupati dan wali kota dari 23 kabupaten/kota itu dalam rangka penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh 2025–2029 untuk mewujudkan visi pembangunan Aceh yang islami, maju, bermartabat dan berkelanj
4/8/2025, 13.28 WIB

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyebut potensi filantropi di Indonesia mencapai lebih dari Rp600 triliun per tahun. Angka tersebut berasal dari berbagai sumber, mulai dari zakat, wakaf, donatur lintas agama, hingga perusahaan yang menghimpun dana filantropi.

“Kalau ini bisa dimulai dan dilanjutkan oleh para filantropis yang berkumpul di sini, maka akan menjadi ladang amal kita ke depan,” ujarnya dalam Pembukaan Filantropi Festival 2025 bertema "Budaya dan Ekosistem Filantropi untuk Dampak yang Lebih Baik", di Jakarta, Senin (4/8).

Rachmat menilai, peran filantropis di Indonesia maupun global telah berkontribusi nyata dalam pembangunan dengan caranya masing-masing. Ia mencontohkan Fatima al-Fihri, seorang filantropis perempuan yang membangun universitas pertama di Afrika Utara, yang kemudian menjadi inspirasi berdirinya perguruan tinggi di Eropa dan Amerika.

Ia juga membagikan pengalamannya secara pribadi, yang menurutnya tak lepas dari kontribusi para filantropis. Rachmat pernah menempuh pendidikan di Persatuan Sekolah Kristen Djakarta (PSKD), sebuah institusi pendidikan yang didirikan oleh para filantropis.

“Filantropis Indonesia sebenarnya sudah membangun dirinya dan membangun untuk Indonesia. Kalau para filantropis bisa membangun negerinya, ini adalah langkah awal kita untuk membangun Indonesia yang lebih berkelanjutan," katanya.

Beberapa lembaga pendidikan ternama lainnya seperti Al-Izhar dan Universitas Prasetiya Mulya juga disebut sebagai hasil inisiatif para filantropis nasional.

Rachmat menekankan pentingnya konsolidasi dan kolaborasi antar filantropis untuk memperkuat budaya keswadayaan. Menurutnya, pembangunan nasional tidak cukup hanya mengandalkan peran pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran kolektif dari masyarakat.

Ia juga menekankan bahwa pemerintah dapat memberi arah, menyusun regulasi, dan membuat undang-undang. Namun, kesadaran masyarakat tetap diperlukan karena pembangunan adalah tanggung jawab bersama.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Antara