Selain Konsumsi, Kenaikan Investasi Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi 5,12%
Menteri Investasi dan Hilirisasi atau Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengatakan investasi merupakan salah satu sektor yang menyumbang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 mencapai 5,12%.
“Alhamdulillah kita masih bisa menjaga pertumbuhan di 5,12%. Kontribusi terbesar memang dari segi konsumsi, tapi dari investasi juga memberikan kontribusi yang sangat signifikan. Kenaikannya di luar ekspektasi banyak orang,” kata Rosan dalam Indonesia-Japan Executive Dialogue 2025, Rabu (6/8).
Menurutnya pada kuartal kemarin jumlah investasi yang masuk ke Indonesia sangat besar. Besaran investasi ini dilaporkan Rosan berdasarkan realisasi investasi, bukan sebatas komitmen.
Berdasarkan catatan Kementerian Investasi dan Hilirisasi, realisasi investasi kuartal II 2025 mencapai Rp 477 triliun, naik 11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya tercatat memiliki investasi tertinggi sebesar Rp 67 triliun.
“Wakil Menteri Keuangan Pak Anggito menyampaikan bahwa ini dibuktikan dengan impor barang modal yang sangat tinggi, all time high. Ini membuktikan barang modal atau kebutuhan investasi masuk sangat tinggi dalam 3 bulan terakhir,” ujarnya.
Pertumbuhan Ekonomi 5,12%
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 sebesar 5,12% secara tahunan (year-on-year), naik dari 5,05% pada periode yang sama tahun lalu.
Angka ini mencerminkan pemulihan ekonomi nasional meski di tengah berbagai tekanan domestik dan global. Pertumbuhan ini didorong oleh kinerja positif di hampir seluruh lapangan usaha dan sebagian besar komponen pengeluaran.
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi tercatat pada lapangan usaha Jasa Lainnya yang tumbuh 11,31%. Disusul oleh Jasa Perusahaan sebesar 9,31%, Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,52%, serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 8,04%.
Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Ekspor Barang dan Jasa yang naik 10,67%. Komponen lain yang turut menopang pertumbuhan adalah Konsumsi Lembaga Non-Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 7,82%, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 6,99%, dan Konsumsi Rumah Tangga sebesar 4,97%.
Hanya Konsumsi Pemerintah (PK-P) yang terkontraksi sebesar 0,33%. Di sisi lain, Impor Barang dan Jasa sebagai faktor pengurang dalam PDB, juga tumbuh cukup tinggi, yakni sebesar 11,65%.
Namun, bila dibandingkan kuartal sebelumnya, laju pertumbuhan tercatat melambat. Produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 5.947 triliun, sementara atas dasar harga konstan tercatat Rp 3.396,3 triliun.
“Pertumbuhan ekonomi bila dibandingkan kuartal I 2025 atau secara kuartalan tumbuh 4,04%,” ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud dalam konferensi pers, Selasa (5/8).