Rupiah Tembus Rp 17.000 per US$ Imbas Harga Minyak Dunia Melonjak
Nilai tukar rupiah dibuka melemah menjadi Rp 17.019 per dolar AS, dikutip dari Bloomberg pada Senin pagi (9/3). Mata uang garuda diperkirakan terus melemah imbas kenaikan harga minyak mentah dunia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 0,56% dibanding penutupan Jumat (6/3) ke level Rp 17.019 per dolar AS.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS oleh sentimen risk off yang memburuk dipicu kenaikan harga minyak mentah yang mencapai US$ 100 per barel lebih,” kata Analis Doo Financial Lukman Leong kepada Katadata.co.id, Senin (9/3).
Kenaikan harga minyak itu dikhawatirkan berdampak besar terhadap perekonomian global dan peningkatan harga barang-barang atau inflasi.
Analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global, khususnya lonjakan harga minyak dunia.
Bagi negara seperti Indonesia yang masih menjadi net importir minyak, kenaikan harga energi global berpotensi menekan neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, serta meningkatkan beban subsidi energi dalam APBN.
“Kondisi ini membuat investor asing cenderung melakukan aksi jual di pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia, yang terlihat dari masih terjadinya arus dana keluar (foreign net sell) di pasar saham,” kata Hendra.
Harga Minyak Lampaui US$ 100 per Barel
Harga minyak acuan dunia mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan ini terjadi seiring dengan meluasnya perang Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah.
Harga minyak Brent naik 16,4% atau US$ 15,24 menjadi US$ 107,93 per barel pada Senin pagi (9/3). Sementara Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 16,50, atau 18,2%, menjadi US$107,40 per barel.
Hal itu menyebabkan beberapa produsen minyak utama di Timur Tengah memangkas pasokan. Ketegangan ini juga memicu kekhawatiran gangguan berkepanjangan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang merupakan titik krusial.
Irak dan Kuwait mulai mengurangi produksi minyak serta Qatar yang makin mengurangi produksi gas alam cair (LNG). Kondisi ini terjadi sebab perang Timur Tengah telah menghambat proses pengiriman produksi migas dari kawasan tersebut.
Analis memprediksi Uni Emirat Arab dan Arab Saudi juga harus memangkas produksi minyak mereka dalam waktu dekat karena cadangan penyimpanan minyak mereka menipis.
Perang ini dapat membuat konsumen dan bisnis di seluruh dunia menghadapi kenaikan harga bahan bakar selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Bahkan jika perang ini berakhir cepat, dampaknya tetap lama karena pemasok migas menghadapi kondisi fasilitas yang rusak, proses logistik yang terganggu, serta risiko pengiriman yang meningkat.
“Saya pikir harga telah naik tajam pagi ini karena laporan produsen minyak di Timur Tengah kini mengurangi produksi akibat fasilitas penyimpanan yang cepat terisi penuh,” kata analis komoditas senior di ANZ, Daniel Hynes dikutip dari Reuters, Senin (9/3).
Produksi minyak Irak dari ladang minyak utamanya di selatan telah turun 70% menjadi hanya 1,3 juta barel per hari. Tiga sumber mengatakan negara tersebut tidak dapat mengekspor minyak melalui Selat Hormuz akibat perang dengan Iran.
“Penyimpanan minyak mentah telah mencapai kapasitas maksimum,” kata seorang pejabat dari Perusahaan Minyak Basra yang dikelola negara.
Sementara itu, perusahaan minyak Kuwait mulai memangkas produksi minyak pada Sabtu (7/3) dan menyatakan force majeure untuk pengiriman, meskipun tidak menyebutkan berapa banyak produksi yang akan dihentikan.
Serangan Iran terhadap infrastruktur minyak di seluruh wilayah terus berlanjut. Kantor Media Fujairah mengatakan kebakaran terjadi di zona industri minyak Fujairah di UAE akibat puing-puing yang jatuh meski tanpa laporan ada korban cedera. Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengatakan di X bahwa mereka mencegat drone yang menuju ladang minyak Shaybah.
