Rupiah Potensi Menguat, The Fed Buka Peluang Pangkas Bunga 3 Kali di Akhir 2025

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/bar
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (15/5/2025). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup di level Rp16.528,5 atau menguat 0,20 persen dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya.
11/8/2025, 10.21 WIB

Pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan akan terus melanjutkan penguatan terhadap dolar AS. Pengamat mata uang Ariston Tjendra mengatakan rupiah berpeluang menguat lagi ke level Rp 16.250 per dolar AS.

“Penguatan ini seiring dengan pernyataan anggota The Fed yang mengomentari pemangkasan suku bunga acuan,” kata Ariston kepada Katadata.co.id, Senin (11/8).

Ariston menjelaskan hal tersebut didasari oleh data ketenagakerjaan AS yang masih melemah dan pernyataan Wakil Ketua Dewan Gubernur The Fed, Michelle Bowman, soal kemungkinan suku bunga acuan bisa dipangkas tiga kali hingga akhir 2025.

Di sisi lain, Ariston mewanti-wanti soal kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Pasar masih menantikan kesepakatan AS dan Cina hingga 12 Agustus 2025.

"Ini mungkin menjaga peluang dolar AS untuk menguat lagi,” ujar Ariston.

Berdasarkan data Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka menguat pada level Rp 16.245 per dolar AS. Level ini menguat 47 poin atau 0,29% dari penutupan sebelumnya.

Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana juga memprediksi hal yang sama. “Rupiah kemungkinan menguat ke level Rp 16.210 per dolar AS hingga Rp 16.310 per dolar AS,” ujar Fikri.

Fikri menyebut berkurangnya independensi The Fed akan menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Penguatan rupiah ini juga didukung dengan ekspektasi kenaikan Consumer Price Index atau CPI Amerika Serikat Juli 2025 yang akan dirilis besok (12/8).

 

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti