Pengusaha Minta Menkeu Baru Genjot Belanja untuk Jaga Pertumbuhan Ekonomi
Kamar Dagang dan Industri atau Kadin Indonesia mendorong Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa untuk menjaga kestabilan perekonomian nasional. Hal tersebut dinilai penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tahun ini.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie mendorong Menkeu Purbaya untuk mempercepat belanja pemerintah pada bulan ini. Hal tersebut penting agar momentum pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,12% secara tahunan pada April-Juni 2025 berlanjut.
"Dari dunia usaha, kami mengharapkan kestabilan perekonomian. Belanja pemerintah harus ditingkatkan pada paruh ketiga ini. Mudah-mudahan Menteri Keuangan yang baru bisa menyeimbangkan itu semua," kata Anin di Wisma Danantara Indonesia, Senin (8/9).
Anin mengatakan peningkatan belanja pemerintah penting untuk menjaga ekonomi daerah. Apalagi, saat ini ada perpindahan mesin ekonomi ke sektor swasta akibat efisiensi belanja pemerintah.
Karena itu, Anin mendorong agar fokus belanja pemerintah bulan ini ke program yang ada di daerah. Beberapa program pemerintah pusat di daerah yang disebutkan adalah penyaluran Kredit Usaha Rakyat bidang Perumahan, Makan Bergizi Gratis, dan Koperasi Desa Merah-Putih.
Sebelumnya, Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank, Faisal Rachman menilai pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal kedua tahun ini tidak terefleksi di kehidupan sehari-hari.
Faisal menjelaskan alasan kenapa pertumbuhan ekonomi tersebut terkesan tidak sesuai realita. Ia mengatakann konsumsi rumah tangga memang menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025.
Konsumsi rumah tangga tumbuh cukup kuat sebesar 4,97% secara tahunan dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi hingga 54,25%. Faisal menyebut yang paling memobilisasi konsumsi rumah tangga ini adalah transportasi dan restoran yang kontribusinya lebih banyak dari golongan kelas menengah ke atas.
Dengan begitu pertumbuhan ekonomi yang bersumber dari konsumsi rumah tangga memang digerakkan oleh golongan menengah atas bukan menengah bawah.
“Makanya memang kalau kita lihat sektor sehari-hari ya di jalanan itu memang tidak akan terefleksi. Jadi memang kalau kita lihat memang membahas tentang fenomena Rojali dan Rohana itu memang jadinya tidak terefleksi di sini,” kata Faisal dalam Media Briefing Virtual PIER Economic Review: Semester I 2025, Senin (11/8)