Moody's Pangkas Outlook Indonesia, BI Sebut Tak Cerminkan Fundamental Ekonomi
Lembaga pemeringkat Moody's mengubah menurunkan outlook ekonomi Indonesia dari stabil menjadi negatif. Di sisi lain lembaga global itu mempertahankan sovereign credit rating pada Baa2.
Menanggapi rilis terbaru itu, Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Alexander Lubis menyatakan pengumuman tersebut tidak mencerminkan kondisi makroekonomi. Menurut Alexander secara fundamental pertumbuhan ekonomi masih cukup kuat dan justru menunjukkan arah perbaikan yang makin solid.
“Meskipun kinerja global penuh ketidakpastian dan tekanan penurunan, ekonomi kita masih solid. Konsumsi dan investasi tetap terjaga,” ujar Alex dalam diskusi media di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (6/2).
Alexander menjelaskan besaran pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang berada di angka 5,1% merupakan cerminkan optimisme. Selain itu inflasi tetap terjaga pada 2,92%, berada dalam kisaran sasaran.
Ia juga menyebutkan stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah. Apalagi menurut dia dibandingkan beberapa negara di Asia Tenggara, pertumbuhan ekonomi nasional masih di atas rata-rata.
Dalam pengumuman terbaru, Moodys menyorot tantangan Indonesia untuk meningkatkan basis penerimaan. Menurut Alex, BI akan senantiasa mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas makro dan keuangan.
“Dari sisi penerimaan kita melihat melihat fundamental kita masih sangat kuat dan ke depan kita masih dengan tetap data dependen,” ujar Alex lagi.
Dalam pengumuman terbaru, Moody's memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada pada kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah. Moody's menilai defisit fiskal diperkirakan tetap akan berada di bawah 3% PDB, sementara kebijakan moneter dipandang akan terus mendukung stabilitas inflasi.
Bank Indonesia ke depannya memprakirakan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah akan tetap solid dengan tren meningkat, didukung oleh inflasi yang terkendali. Pertumbuhan ekonomi tahun 2026 diprakirakan meningkat di kisaran 4,9-5,7% ditopang kenaikan permintaan domestik sejalan berbagai kebijakan Pemerintah dan berlanjutnya dampak positif dari bauran kebijakan Bank Indonesia.
Alex menyebutkan ketahanan eksternal perekonomian Indonesia juga tetap kuat di tengah gejolak global. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) terjaga sehat, ditopang oleh kinerja neraca perdagangan yang solid.
Neraca perdagangan pada Desember 2025 mencatat surplus sebesar US$ 2,51 didukung oleh ekspor nonmigas berbasis sumber daya alam maupun manufaktur. Adapun posisi cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2025 meningkat menjadi sebesar US$ 156,5 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri
Alex menjelaskan Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian global yang meningkat. Selain itu BI akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah untuk memperkuat komunikasi kebijakan dalam rangka memelihara kepercayaan pasar.