Rupiah Menguat ke 16.871 per US$ di Tengah Naiknya Risiko Global

Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi.
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
9/2/2026, 10.44 WIB

Nilai tukar rupiah menguat tipis 0,03% ke level 16.871 per dolar AS pada perdagangan pagi ini. Namun, penguatan rupiah hari ini diprediksi terbatas seiring risiko global yang meningkat.

“Penguatan diperkirakan terbatas mengingat sentimen domestik yang masih lemah, investor menantikan data survey kepercayaan konsumen siang ini,” kata Analis Doo Financial Futures Lukman Leon kepada Katadata, Senin (9/2). 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka menguat 4 poin di level 16.872 per dolar AS. Kurs rupiah bergerak semakin menguat meski tipis ke level 16.871 hingga pukul 10.30 WIB.

Mayoritas mata uang Asia juga menguat terhadap dolar AS. Peso Filipina menguat 0,29%, rupe India 0,04%, yuan China 0,02%, ringgit Malaysia 0,37%, baht Thailand 0,9%, dan yen Jepang 0,22%.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, dolar AS tengah melemah karena perbedaan pendapat antara AS dan Iran pada akhir pekan lalu. Iran menolak seruan AS untuk membahas persenjataan rudalnya dan menyatakan bahwa diskusi hanya akan terbatas pada pembahasan ambisi nuklir Teheran. 

“Iran adalah produsen minyak utama, dan terletak di sebelah Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia untuk minyak mentah,” kata dia. 

Selain itu, data pemutusan hubungan kerja Challenger menunjukkan perusahaan-perusahaan AS memangkas jumlah karyawan pada bulan Januari dengan laju tercepat sejak resesi besar tahun 2009. 

Ibrahim juga mengatakan, data lain menunjukkan peningkatan klaim pengangguran mingguan yang lebih besar dari perkiraan, sementara data lowongan kerja untuk bulan Desember juga di bawah ekspektasi. 

“Pasar tenaga kerja yang mendingin memberi The Fed lebih banyak dorongan untuk memangkas suku bunga, dengan dolar berada di bawah tekanan akibat hal ini,” kata Ibrahim. 

Selain itu, ia juga menilai pasar tidak yakin tentang kebijakan moneter AS di bawah Warsh. 

“Mantan gubernur The Fed ini dipandang sebagai pilihan yang kurang dovish untuk peran puncak The Fed,” kata Ibrahim. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman