Airlangga: Sulit Pertahankan Defisit 3% Kecuali Mau Potong Belanja

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nym.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik Indonesia-AS di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026).
13/3/2026, 17.00 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan defisit dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 3% sulit dipertahankan. Ini merupakan dampak dari situasi geopolitik yang terjadi.

Situasi tersebut disampaikan Airlangga kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (13/3).

Dalam agenda tersebut, Airlangga menjelaskan seluruh skenario yang disiapkan kepada Prabowo. Dalam seluruh skema, angka defisit ternyata berada di atas 3%.

"Artinya berbagai skenario defisit sulit dipertahankan kecuali kita mau memotong belanja dan pertumbuhan," kata Airlangga.

Airlangga mengatakan, ada 3 skenario yang disiapkan. Skenario pertama adalah harga minyak US$ 86 per barel, nilai tukarRp 17 ribu per dolar Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi 5,3%, SBN 7,2%, defisit 3,18%.

Skenario kedua adalah harga minyak US$ 97 per barel, kurs Rp 17.300 per dolar, pertumbuhan ekonomi 5,2%, tingkat bunga SBN 7,2%, serta angka defisit 3,53%.

Sedangkan skenario terburuk adalah harga minyak US$ 115 per barel, kurs rupiah Rp 17.500 per dolar, tingkat bunga SBN 7,2%, dan angka defisit 4,06%.

"Ini beberapa skenario yang perlu kita rapatkan secara terbatas," kata Airlangga.

Hingga pernnyataan ini disampaikan, sidang kabinet masih terus berjalan. Selain Airlangga, anggota kabinet lain yang berpidato adalah Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.