Lonjakan Impor pada Februari Didominasi Barang Cina, Apa Penyumbangnya?
Badan Pusat Statistik mencatat, impor pada Februari 2026 melonjak 10,85% secara tahunan mencapai US$ 20,89 miliar. Lonjakan impor terutama terjadi pada barang-barang nonmigas dari Cina yang tercatat naik 29% secara tahunan mencapai US$ 7,79 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik Ateng Hartono menjelaskan, lonjakan terutama terjadi pada impor nonmigas yang mencapai 18,24% secara tahunan menjadi US$ 18,90 miliar. Andilnya terhadap total kenaikan impor mencapai 15,47%.
Sebaliknya, impor migas justru mengalami penurunan cukup dalam. Nilai impor migas pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 2 miliar atau turun 30,36% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Peningkatan nilai impor secara tahunan ini terutama didorong oleh impor nonmigas,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/4).
Total impor secara kumulatif pada Januari–Februari 2026 mencapai US$ 42,09 miliar atau naik 14,44% dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Dari jumlah tersebut, impor migas tercatat sebesar US$ 5,16 miliar atau turun 3,50%, sedangkan impor nonmigas mencapai US$ 36,93 miliar atau meningkat 17,49%.
Impor barang nonmigas secara kumulatif pada Januari-Februari 2026 juga tercatat paling banyak dari Cina, naik 26,64% menjadi US$ 15,68 miliar. Kenaikan terbesar terjadi pada jenis barang plastik dan barang dari plastik yang melonjak 36% menjadi US$ 818,34 juta. Selain itu, lonjakan impor juga terjadi pada mesin/peralatan elektrik dan bagiannya sebesar 34,71% menjadi US$ 22,49 miliar, serta mesin/peralatan mekanis dan bagiannya sebesar 32,37% menjadi US$ 3,64 miliar.
Berdasarkan golongan penggunaan, kenaikan impor terjadi di seluruh kategori. Impor bahan baku dan penolong menjadi penyumbang utama dengan nilai mencapai US$ 29,40 miliar atau naik 9,27% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, serta memberikan andil sebesar 6,78% terhadap total kenaikan impor.
Peningkatan impor bahan baku dan penolong terutama didorong oleh komoditas logam mulia dan perhiasan (HS71), mesin dan perlengkapan elektrik (HS85), serta berbagai produk kimia (HS38).
Dari sisi negara asal, kenaikan impor terutama berasal dari Cina, Australia, Singapura, serta kawasan Uni Eropa. Sementara itu, impor dari kawasan ASEAN tercatat mengalami penurunan.