Airlangga: Indonesia Termasuk Negara dengan Risiko Resesi Rendah

ANTARA FOTO/Fauzan/agr
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan Indonesia termasuk negara dengan risiko resesi yang rendah di tengah ketidakpastian perang Iran dengan AS dan Israel.
Penulis: Ade Rosman
14/4/2026, 16.06 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, Indonesia termasuk negara dengan risiko resesi yang rendah di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. 

Mengutip laporan Bloomberg, Airlangga menyebut peluang Indonesia mengalami resesi hanya sekitar 5%, lebih rendah dibandingkan sejumlah negara lain seperti Brasil dan Cina yang masing-masing sebesar 15%, serta Jepang dan Amerika Serikat yang mencapai 30%.

Airlangga menegaskan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih solid dan jauh berbeda dibandingkan saat krisis 1998.

"Jauh berbeda dengan situasi tahun 1998. Dari segi ekonomi makro, saya katakan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) adalah 5,11%. Dan proyeksi tahun ini di atas 5,3%. Kuartal pertama tahun ini, kami optimis pertumbuhan Indonesia di kuartal pertama sekitar 5,5%," kata Airlangga dalam media briefing bersama media internasional di Auditorium Bakom RI, Jakarta, Senin (13/4). 

Airlangga mengatakan, ketahanan ekonomi nasional ditopang oleh kuatnya permintaan domestik yang berkontribusi hingga 54% terhadap PDB, serta dukungan ketahanan pangan dan energi.

Di sisi lain, pemerintah juga mencatat capaian swasembada beras sejak 2025 dengan produksi mencapai 34,7 juta ton dan stok Bulog sebesar 4,6 juta ton per 8 April 2026. Pada sektor energi, kebijakan seperti B50, pengembangan energi surya, dan peningkatan kapasitas kilang minyak terus didorong pemerintah. 

APBN Redam Guncangan Ekonomi

Airlangga juga mengatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berperan sebagai peredam guncangan ekonomi. 

Hingga Maret 2026, penerimaan pajak tercatat Rp 462,7 triliun atau tumbuh 14,3% secara tahunan, dengan defisit tetap terjaga di bawah 3% PDB.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia mencapai US$ 148,2 miliar atau setara enam bulan impor, yang disebutnya menjadi bantalan terhadap tekanan eksternal.

Rasio utang pemerintah saat ini tercatat sebesar 40,46% terhadap PDB atau Rp 9.637,9 triliun. Mayoritas utang berasal dari dalam negeri, dengan kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 12,6 persen.

“Jika Anda melihat detail utang kita, sebagian besar berasal dari dalam negeri. Jadi, risiko guncangan eksternal terkendali,” kata Airlangga.

Oleh karena itu, Airlangga menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini tetap kuat dan memiliki daya tahan tinggi terhadap potensi resesi global.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman