Ekonomi Kelas Menengah Terjepit Harga Rumah hingga Biaya Pendidikan Anak

ANTARA FOTO/Andri Saputra/YU
Sejumlah calon pembeli memilih pakaian di salah satu pusat perbelanjaan di Ternate, Maluku Utara, Minggu (15/3/2026). Jelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, pusat perbelanjaan di Ternate mulai ramai dikunjungi warga dari kabupaten/kota di Provinsi Maluku Utara untuk membeli berbagai kebutuhan Lebaran.
Editor: Agustiyanti
15/4/2026, 14.57 WIB

 

Survei Katadata Indonesia Middle Class Insights (KIMCI) menunjukkan kelas menengah, yang menjadi motor utama ekonomi Indonesia, memiliki kondisi keuangan yang kian rentan di tengah melonjaknya biaya hidup. Mayoritas pernah mengalami "besar pasak daripada tiang" dalam pengeluaran bulanan dan masih kesulitan membeli rumah karena harga yang melambung. 

Tekanan terhadap kelas menengah juga terlihat dari jumlah yang menyusut signifikan. Data terbaru menunjukkan, jumlah kelas menengah turun signifikan dalam lima tahun terakhir, dari 57,3 juta orang pada 2019 menjadi 47,2 juta orang pada 2024. Sebaliknya, kelompok “menuju kelas menengah” meningkat dari 125,2 juta menjadi 136,4 juta orang.

Fenomena ini mengindikasikan semakin banyak masyarakat yang tertahan untuk naik kelas. Padahal, kelas menengah menyumbang 81,5% konsumsi rumah tangga dan 53,9% Produk Domestik Bruto (PDB). Target Indonesia menjadi negara maju pada 2045 juga sangat bergantung pada ekspansi kelas menengah hingga mencapai sekitar 70% populasi.

Berdasarkan survei KIMCI, setidaknya ada empat hambatan struktural utama yang membuat posisi kelas ini semakin rentan.

  1. Tingginya Harga Properti: Banyak Kelas Menengah Masih Tinggal dengan Orang Tua

    Kenaikan harga hunian tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan. Survei menunjukkan, faktor ekonomi menjadi hambatan dominan (63%), disusul faktor pribadi (57%) dan keterbatasan pembiayaan KPR (35%). Secara spesifik, mahalnya harga rumah (35%) dan akses pembiayaan (29%) menjadi kendala utama.
    Hal ini menyebabkan banyak keluarga kelas menengah tertahan dalam status menyewa atau tinggal bersama orang tua dalam jangka panjang.

  2. Biaya pendidikan yang terus meningkat

    Di tengah sulitnya membangun aset, pendidikan menjadi jalur utama mobilitas sosial. Sebanyak 99% responden berharap anak mereka memperoleh pendidikan lebih tinggi. Namun, pilihan ini membawa konsekuensi finansial besar. Sebanyak 61,1% responden memilih sekolah swasta demi kualitas. Hal ini menyebabkan peningkatan beban pengeluaran rumah tangga setiap tahun. Biaya pendidikan pun menjadi aspek dengan penilaian terendah dibanding faktor lain, mencerminkan tekanan finansial yang nyata.g.

  3. Biaya kesehatan yang mahal dan tidak pasti

    Kesehatan menjadi sumber risiko finansial yang signifikan. Tingkat kepercayaan terhadap layanan kesehatan pemerintah relatif terbatas dan hanya mencapai  45,8%.
    Akibatnya, banyak kelas menengah beralih ke layanan swasta dengan biaya lebih tinggi. Biaya kesehatan bahkan menjadi aspek dengan skor terendah, memperkuat persepsi bahwa sektor ini dapat dengan cepat menggerus tabungan dan memicu krisis finansial rumah tangga.

  4. Margin keuangan yang semakin menipis.

Ketahanan finansial kelas menengah terpantau kian rapuh. Sebanyak 6 dari 10 responden mengaku pernah mengalami kondisi “besar pasak daripada tiang”.

Untuk menutup defisit, strategi yang dilakukan, antara lain mengandalkan sumber daya yang ada (76,3%), mencari penghasilan tambahan (36,5%), meminjam dari keluarga atau teman (26,8%), hingga memanfaatkan PayLater (15,5%) atau kredit (14%).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah