Data BPS ungkap paradoks kelas menengah Indonesia: 37,3 juta orang kerja lebih dari 49 jam per minggu, namun rata-rata penghasilannya justru lebih rendah dibanding pekerja dengan jam normal.
Presiden Prabowo Subianto menjawab kekhawatiran Chatib Basri soal fenomena penyusutan Kelas Menengah Indonesia pada 2019-2024 dan kaitannya dengan stabilitas sosial.
Menurut tim Databoks, pemberitaan media sering mengaitkan kondisi kelas menengah dengan dinamika konsumsi rumah tangga, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran 5% dinilai belum cukup untuk meningkatkan kesejahteraan, sehingga peningkatan produktivitas menjadi kunci utama untuk mencapai target yang lebih ti
Ekonom Josua Pardede mengungkap penurunan signifikan jumlah kelas menengah di Indonesia, terutama terlihat dari penurunan spending di beberapa sektor utama seperti otomotif dan manufaktur.
Survei oleh KedaiKOPI menemukan bahwa 58% kelas menengah menilai kebijakan pemerintah cukup berpihak kepada mereka, dengan fokus bantuan di stabilisasi harga dan pendidikan berkualitas.
Survei KedaiKOPI mengungkapkan pergeseran konsumsi kelas menengah yang lebih fokus pada kebutuhan pokok ketimbang gaya hidup seperti fashion, yang dipengaruhi oleh tekanan ekonomi dan preferensi belan
Bank Dunia mendorong investasi di sektor manufaktur bernilai tinggi untuk mendorong kenaikan lapangan kerja berkualitas dan kelas menengah di Indonesia.
Riset dari Ideas memperlihatkan bahwa penurunan jumlah kelas menengah di Indonesia berimbas pada potensi penurunan nilai ekonomi kurban di 2025, dengan penduduk yang berkurban diproyeksikan berkurang