Kelas menengah Indonesia semakin disiplin mengatur keuangan dengan memanfaatkan Fitur Kantong di layanan perbankan untuk memisahkan dana berdasarkan kebutuhan.
Kelas menengah Indonesia menjadi bantalan sekaligus mesin konsumsi nasional. Mereka membayar pajak, berbelanja, menyekolahkan anak, dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi dari dalam.
Populasi kelas menengah Indonesia sebagai mesin ekonomi menyusut. Side hustle yang mereka lakukan menandakan tekanan ekonomi yang semakin berat, berdasarkan riset Katadata Insight Center.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% dengan PDB Rp23.800 triliun pada 2025, namun stabilitas makro ini belum mampu menguatkan kesejahteraan kelas menengah secara luas.
Laporan Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) 2026 menunjukkan, enam dari sepuluh responden dalam riset terbaru pernah mengalami situasi ‘Besar Pasak daripada Tiang’.
Survei Katadata Indonesia Middle Class Insights (KIMCI) menunjukkan mayoritas kelompok kelas menengah mengalami "besar pasak daripada tiang" dalam pengeluaran bulanan.
Kelas menengah Indonesia yang menjadi motor konsumsi justru terdesak secara ekonomi dan akses hunian, mengancam daya dorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Data BPS ungkap paradoks kelas menengah Indonesia: 37,3 juta orang kerja lebih dari 49 jam per minggu, namun rata-rata penghasilannya justru lebih rendah dibanding pekerja dengan jam normal.
Presiden Prabowo Subianto menjawab kekhawatiran Chatib Basri soal fenomena penyusutan Kelas Menengah Indonesia pada 2019-2024 dan kaitannya dengan stabilitas sosial.
Menurut tim Databoks, pemberitaan media sering mengaitkan kondisi kelas menengah dengan dinamika konsumsi rumah tangga, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran 5% dinilai belum cukup untuk meningkatkan kesejahteraan, sehingga peningkatan produktivitas menjadi kunci utama untuk mencapai target yang lebih ti