Prabowo soal Rupiah Anjlok: Mau Dolar Berapa Ribu, di Desa Enggak Pakai Dolar

ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/tom.
Presiden Prabowo Subianto saat memberikan sambutan pada kegiatan penyerahan denda administratif dan lahan kawasan hutan di Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Penulis: Mela Syaharani
Editor: Ahmad Islamy
16/5/2026, 16.08 WIB

Presiden Prabowo Subianto memberikan tanggapan terkait pelemahan nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Menurut kepala negara, masyarakat saat ini tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut.

“Selama Purbaya (Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa) bisa senyum, tenang saja tidak usah khawatir. Mau dolar berapa ribu (rupiah) kek, kalian di desa-desa tidak pakai dolar,” kata Prabowo saat peresmian operasionalisasi 1.061 unit Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, dipantau secara daring melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden, Sabtu (16/5).

Dia lantas menuding pihak yang khawatir dan pusing terkait kurs rupiah adalah orang-orang yang sering melakukan perjalanan ke luar negeri. Dia percaya ekonomi Indonesia dan fundamentalnya kuat.

“Orang mau bilang apa, Indonesia kuat. Percaya pada kekuatan kita, percaya kepada rakyat kita,” ujarnya.

Melansir data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada Rabu (13/5) pukul 14.20 WIB menyentuh angka 17.462 per dolar AS. Sebelumnya, nilai tukar rupiah sempat menembus 17.500 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5) pagi. Ini adalah level terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Bank Indonesia (BI) sebelumnya menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi dinamika global. Konflik Iran dengan AS dan Israel yang memicu lonjakan harga minyak dunia, serta kenaikan suku bunga AS menjadi penyebab rupiah dan mata uang berkembang lainnya melemah.  

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, tekanan terhadap mata uang dialami mayoritas mata uang negara berkembang. Sejak akhir Februari 2026, harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 40%. 

Selain itu, kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang mendekati 4,5% juga ikut mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang global. “Kalau kita lihat sekarang US Treasury 10 tahun sudah mendekati 4,5%. Akhir Februari masih sekitar 4%," kata Denny di Kantor BI, Jakarta Pusat, Rabu (13/5).

Denny menuturkan, pelemahan mata uang juga dialami peso Filipina, baht Thailand, rupee India, rand Afrika Selatan, peso Cile hingga won Korea Selatan.

Di sisi lain, ada pula faktor domestik yang menyebabkan pelemahan rupiah. BI mencatat adanya peningkatan permintaan dolar AS dipicu musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, hingga kebutuhan terkait penyelenggaraan ibadah haji. 

Kendati demikian, Denny mengatakan, BI optimistis dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Salah satunya dengan aktif berada di pasar domestik maupun internasional.

“Begitu pasar Jakarta tutup, kita standby di pasar Eropa. Kita kemudian standby di pasar Amerika untuk menjaga bagaimana pergerakan nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani