Utang Luar Negeri RI Capai Rp7.637 T per Maret 2026, Singapura Kreditor Terbesar
Bank Indonesia mencatat, utang luar negeri atau ULN Indonesia pada akhir kuartal I 2026 mencapai US$ 433,4 miliar atau setara Rp 7.367 triliun dengan asumsi kurs JISDOR akhir Maret 2026 16.999 per dolar AS. Posisi utang ini menurun dibandingkan Februari 2026 sebesar US$ 438,4 miliar, tetapi naik tipis dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 429,9 miliar.
“Secara tahunan tumbuh sebesar 0,8%, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan IV 2025 sebesar 1,9%,” demikian penjelasan BI dalam pernyataan resmi, Senin (18/5).
Berdasarkan kreditornya berdasarkan negara, utang dari Singapura masih tercatat paling besar, turun tipis dari US$ 54,09 miliar menjadi US$ 52,75 miliar. Urutan kedua ditempati oleh Amerika sebesar US$ 27,51 miliar dan ketiga oleh Cina US$ 25,32 miliar.
Perkembangan posisi ULN ini dipengaruhi oleh ULN sektor publik dan ULN sektor swasta. Posisi ULN pemerintah pada kuartal I 2026 sebesar US$ 214,7 miliar, atau tumbuh sebesar 3,8% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal IV 2025 sebesar 5,5% (yoy).
“Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh aliran modal masuk asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional seiring dengan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia,” kata BI.
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,1% dari total ULN pemerintah); administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,2%); jasa pendidikan (16,2%); konstruksi (11,5%); serta transportasi dan pergudangan (8,5%).
Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99% dari total ULN pemerintah.
Selanjutnya posisi ULN swasta pada kuartal I 2026 tercatat sebesar US$ 191,4 miliar, menurun dibandingkan dengan posisi pada kuartal IV 2025 sebesar US$ 194,2 miliar, atau secara tahunan mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,8% (yoy).
Penurunan posisi ULN terjadi pada kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations), yang secara tahunan masing-masing tercatat kontraksi sebesar 3,6% (yoy) dan 1,3% (yoy).
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan; jasa keuangan dan asuransi; pengadaan listrik dan gas; serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 80,4% dari total ULN swasta. ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,6% terhadap total ULN swasta.
BI menilai struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) yang turun menjadi 29,5% pada kuaral I 2026 dari 30,0% pada kuartal IV 2025, serta didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 85,4% dari total ULN.
“Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” kata BI.