Rupiah Berpotensi Menguat Usai Trump Sebut Tunda Serangan ke Iran
Nilai tukar rupiah dinilai berpotensi menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini (19/5), seiring meredanya kekhawatiran pasar global setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda rencana serangan terhadap Iran.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan sentimen itu mendorong perbaikan minat investor terhadap aset berisiko dan menekan penguatan dolar AS.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah meredanya kekhawatiran pasar setelah Trump mengatakan akan menunda serangan ke Iran,” ujar Lukman kepada Katadata.co.id, Selasa (19/5).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 17.681 per dolar AS melemah 0,38% atau 67 poin. Hingga pukul 09.07 WIB Rupiah kian melemah di Rp 17.704 per dolar AS turun 0,20% atau 36 poin.
Rupiah ditutup di level Rp 17.668 per dolar AS pada perdagangan Senin (18/5). Ini membuat rupiah melemah 0,4% dibanding penutupan Jumat (15/5) yang berada Rp 17.597 per dolar AS.
Meski demikian, Lukman menilai penguatan rupiah kemungkinan masih terbatas, karena pasar tetap mencermati kondisi domestik yang dinilai masih lemah.
Selain itu, investor tengah menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diperkirakan menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.
Menurut Lukman, ekspektasi kenaikan suku bunga membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi. Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini (19/5).