Rupiah Ditutup Loyo ke Rp17.963 per Dolar AS, Pasar Dibayangi Negosiasi AS-Iran

Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi.
Editor: Agustiyanti
3/7/2026, 15.45 WIB

Nilai tukar rupiah ditutup turun 32 poin ke level Rp 17.963 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat menguat hingga 45 poin. Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.

 Dari faktor eksternal, perhatian investor masih tertuju pada perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan optimistis bahwa Iran telah menyetujui hampir seluruh poin penting dalam pembahasan.

Namun, optimisme tersebut dibayangi laporan yang menyebutkan bahwa Iran menolak usulan Washington untuk melepaskan klaim atas Selat Hormuz sebagai imbalan pencairan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan.

Penolakan tersebut membuat ketidakpastian geopolitik masih membayangi pasar, meski kekhawatiran terhadap gangguan langsung pasokan minyak dari kawasan Teluk mulai mereda.

"Pasar kini mengamati perkembangan lebih lanjut dalam negosiasi AS-Iran, arus minyak mentah Teluk, dan tanda-tanda pemulihan permintaan setelah libur akhir pekan AS untuk mendapatkan arah baru bagi harga minyak,” kata Ibrahim. 

Selain isu geopolitik, pasar juga merespons data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan pelemahan. Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mencatat penambahan tenaga kerja hanya mencapai 57.000 pada Juni, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 110.000. Sementara itu, data Mei juga direvisi turun menjadi 129.000 dari sebelumnya 172.000.

Di sisi lain, tingkat pengangguran justru turun tipis menjadi 4,2% dari 4,3%, sedangkan rata-rata upah per jam meningkat 0,3% secara bulanan dan 3,5% secara tahunan, sesuai ekspektasi pasar. 

Menurut Ibrahim, data Non-Farm Payroll (NFP) yang lebih lemah dari perkiraan mengurangi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter ketat The Federal Reserve. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun menjadi sekitar 51% dari sebelumnya 63%.

Sedangkan dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati perlambatan penerimaan pajak penghasilan Indonesia. Laporan OECD Revenue Statistics in Asia and the Pacific 2026 menunjukkan penerimaan dari kelompok pajak atas penghasilan, laba, dan keuntungan modal hanya naik 0,07% secara tahunan dari Rp 1.061,24 triliun pada 2023 menjadi Rp1.061,94 triliun pada 2024.

Pertumbuhan tersebut jauh tertinggal dibandingkan kenaikan total penerimaan pajak yang meningkat sekitar Rp103 triliun menjadi Rp2.620,67 triliun pada 2024.

Perlambatan tersebut terutama dipicu oleh penurunan penerimaan pajak penghasilan badan yang turun sekitar Rp 11,36 triliun menjadi Rp 818,30 triliun. Sebaliknya, penerimaan pajak penghasilan orang pribadi masih mencatat pertumbuhan sekitar Rp 12,05 triliun menjadi Rp 243,64 triliun. 

Ibrahim menilai, perlambatan penerimaan pajak korporasi menjadi salah satu indikator yang mencerminkan tantangan terhadap aktivitas dunia usaha, sehingga turut memengaruhi sentimen pelaku pasar terhadap aset domestik.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah