Harga Minyak Tembus Lagi US$ 100 per Barel, Purbaya Pastikan Tak Bahaya ke APBN

Katadata/Fauza Syahputra
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
24/7/2026, 15.20 WIB

Harga minyak dunia kembali menembus US$ 100 per barel usai kelompok Houthi menggempur kapal-kapal Arab Saudi di Laut Merah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kenaikan harga minyak dunia ke level tersebut tidak akan membahayakan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

Bendahara negara mengatakan, pemerintah telah memperhitungkan skenario harga minyak di level US$ 100 per barel dalam penyusunan anggaran. Kondisi harga minyak di level US$ 100 per barel bukan sesuatu yang baru bagi APBN.

“Asumsi kami kan US$ 100 per barel, berarti keadaan ini bukan berarti hal yang baru untuk kita. Jadi, bisa kami adjust lagi nanti anggarannya seperti sebelumnya. Jadi nggak kaget,” kata Purbaya saat ditemui wartawan di kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Jumat (24/7). 

Purbaya menegaskan, APBN masih berada dalam kondisi yang kuat untuk menghadapi kenaikan harga minyak. Namun, kenaikan harga minyak akan berdampak terhadap ruang fiskal pemerintah untuk menambah belanja.

Purbaya menjelaskan,  pemerintah memiliki ruang fiskal lebih besar untuk menambah belanja ketika harga minyak dunia turun. Namun, ruang tersebut akan semakin terbatas jika harga minyak kembali naik.

“Masih (kuat). Tapi tadinya kan gini, ketika harga minyak turun saya pikir saya ada ruang untuk nambah belanja ke daerah dan lain-lain ya, termasuk kementerian lembaga,” katanya.

Purbaya juga memastikan kenaikan harga minyak tidak akan mengubah anggaran stimulus yang telah disiapkan pemerintah untuk semester II 2026. Ini karena stimulus tersebut sejak awal telah disusun dengan menggunakan asumsi harga minyak sebesar US$ 100 per barel.

“Enggak, enggak, waktu stimulus kemarin dilakukan kan anggaran dengan asumsi harga minyak US$ 100 per barel juga. Jadi nggak ada perubahan yang berarti,” kata dia.

Meski demikian, Purbaya mengatakan, pemerintah tetap melakukan antisipasi terhadap kemungkinan harga minyak naik lebih tinggi. Hal itu dilakukan setelah Presiden meminta pemerintah melakukan simulasi anggaran dengan berbagai skenario harga minyak.

“Kemarin waktu di rapat kabinet, Presiden meminta kami melakukan simulasi untuk harga minyak dengan skenario yang berbeda, bukan US$ 100 per barel saja. Jadi bagimana anggarannya, sedang dihitung,” kata Purbaya.

Di sisi lain, pemerintah tidak menyiapkan tambahan anggaran untuk subsidi dan kompensasi BBM. Purbaya mengatakan pemerintah akan berfokus memastikan penyaluran subsidi tepat sasaran sehingga volume konsumsi BBM bersubsidi dapat dikendalikan.

“Tidak ada anggaran itu. Yang kami pastikan itu subsidinya tepat sasaran sehingga bisa terkendali volumenya itu,” kata Purbaya.

Purbaya menje, pemerintah masih menunggu usulan dari PT Pertamina (Persero) terkait langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menghadapi dinamika harga minyak dunia.

Adapun, harga minyak acuan dunia kembali menembus US$ 100 per barel. Hal ini terjadi setelah Kelompok Houthi menyerang kapal tanker di Laut Merah, situasi ini membuka babak baru perang Timur Tengah di tengah.  

Harga minyak Brent kini berada di angka US$ 100,82 per barel pada pukul 08.08 waktu Singapura, setelah melonjak 7% pada sesi sebelumnya. Minyak acuan dunia menembus angka US$ 100 per barel untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir. 

Minyak Brent bahkan mengalami kenaikan kontrak berjangka sekitar 14% sepanjang pekan ini. Sementara itu harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di level  di US$ 92,50 per barel.

Harga minyak melonjak sepanjang bulan ini seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Teluk Persia. Kondisi tersebut mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz serta menghambat arus pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG).  

Serangan pertama kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah semakin memperbesar kekhawatiran akan gangguan pasokan energi di kawasan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman