The Fed Tahan Suku Bunga, Ada Beda Pendapat di Rapat FOMC

123rf
The Fed (Federal Reserve).
Editor: Agustiyanti
30/7/2026, 09.55 WIB

Bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,5% hingga 3,75% dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Keputusan FOMC diambil melalui pemungutan suara 9 berbanding 3.  

Tiga anggota yang berbeda pendapat, yakni Presiden The Fed Dallas Lorie Logan, Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, dan Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari. Mereka menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. 

Warsh mengatakan ,perbedaan suara tersebut tidak mengubah komitmen The Fed untuk mengembalikan inflasi ke target 2%.

 "Bagi sebagian rumah tangga, pelaku usaha, dan pelaku pasar, lima tahun inflasi tinggi telah menimbulkan kesan yang keliru bahwa target inflasi implisit The Fed berada di atas 2%. Izinkan saya menegaskan kembali, tidak ada target inflasi yang longgar," kata Warsh dalam konferensi pers usai rapat FOMC dikutip dari Bloomberg, Kamis (30/7).

Menurutnya, keputusan mempertahankan suku bunga bukanlah tanda bahwa The Fed bersikap pasif. Bank sentral AS tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga sebagai mandat utamanya.

Pernyataan resmi FOMC juga tidak mengalami perubahan dibandingkan pertemuan sebelumnya pada Juni. The Fed kembali menegaskan komitmennya untuk "mewujudkan stabilitas harga."

Meski demikian, Warsh mengakui suku bunga masih berpotensi dinaikkan apabila tekanan inflasi tetap bertahan dalam beberapa waktu ke depan.

"Jika inflasi terus tinggi sepanjang periode proyeksi, suku bunga sangat mungkin menjadi bagian dari solusinya. Namun saya tidak mengatakan bahwa itu menjadi satu-satunya solusi," ujarnya. 

Warsh menjelaskan alasan The Fed belum menaikkan suku bunga pada pertemuan kali ini karena suku bunga pasar telah bergerak naik sejak rapat sebelumnya. Menurut dia, kenaikan tersebut menunjukkan pasar telah melakukan sebagian dari penyesuaian yang diharapkan bank sentral. 

Ia juga mengaitkan kondisi tersebut dengan kebijakan The Fed yang mulai mengurangi panduan mengenai arah suku bunga di masa mendatang. 

"Pasar telah mengambil keputusan karena kami mengurangi upaya untuk memengaruhi ekspektasi mereka. Penilaian pasar terhadap tingkat suku bunga nominal di sepanjang kurva imbal hasil Treasury telah meningkat," kata Warsh.

 Keputusan ini menjadi kali kelima berturut-turut The Fed mempertahankan suku bunga acuan. Namun, munculnya tiga suara yang mendukung kenaikan suku bunga menunjukkan meningkatnya kekhawatiran sebagian pejabat bank sentral terhadap tekanan inflasi yang masih tinggi.

Tekanan tersebut muncul meskipun data inflasi Juni menunjukkan perlambatan lebih besar dari perkiraan. Harga konsumen AS bahkan mencatat penurunan bulanan pertama dalam enam tahun, didorong turunnya harga bahan bakar. Sementara itu, inflasi produsen juga tumbuh lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Namun, The Fed masih mewaspadai risiko inflasi yang berasal dari kembali memanasnya konflik di Timur Tengah. Eskalasi tersebut sempat mendorong harga minyak mentah Brent menembus US$100 per barel, meski belakangan turun kembali ke kisaran US$90 per barel.

Di sisi lain, kondisi pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat. Dalam pernyataan resminya, FOMC kembali menilai aktivitas ekonomi tumbuh dengan "laju yang solid", didukung investasi modal dan produktivitas yang tetap kuat, meski inflasi masih berada di atas target 2% bank sentral.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah