Rupiah Melemah, Sektor Apa Saja yang Diuntungkan?

ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/bar
Petani melakukan aktivitas bongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit hasil panen miliknya di Desa Cot Darat, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Jumat (17/7/2026). Pemerintah Aceh melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan menetapkan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit tertinggi untuk perkebunan mitra plasma periode 15 hingga 28 Juli 2026 sebesar Rp3.718 per kilogram di Wilayah Timur dan Rp3.627 per kilogram di Wilayah Barat.
Editor: Yuliawati
4/8/2026, 11.06 WIB

Pelemahan nilai tukar rupiah tidak selalu berdampak negatif bagi perekonomian. Sejumlah sektor berbasis ekspor justru berpotensi memperoleh keuntungan karena produk Indonesia menjadi lebih murah dan lebih kompetitif di pasar internasional.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, dalam riset Indonesia Economic Outlook Q3-2026, menyebutkan beberapa sektor yang paling berpotensi menikmati manfaat depresiasi rupiah.

Menurutnya, pelemahan rupiah dapat meningkatkan daya saing harga komoditas ekspor Indonesia sehingga berpotensi mendorong permintaan luar negeri dan meningkatkan penerimaan devisa.

"Rupiah yang lebih lemah dapat meningkatkan daya saing harga sektor-sektor berorientasi ekspor di pasar internasional, yang berpotensi mendorong permintaan luar negeri dan pendapatan ekspor," tulis Teuku Riefky dalam risetnya, dikutip Selasa (4/8).

Sawit Jadi Komoditas Paling Diuntungkan

Pertama, riset tersebut menunjukkan minyak sawit masih menjadi salah satu komoditas yang paling diuntungkan ketika rupiah terdepresiasi. Sepanjang Januari-Mei 2026, kelompok lemak dan minyak hewani serta nabati (HS 15), yang didominasi minyak sawit, menyumbang 13,55% dari total ekspor nonmigas Indonesia.

Sejumlah penelitian sebelumnya menemukan depresiasi rupiah mampu meningkatkan ekspor minyak sawit ke sejumlah negara tujuan. Namun, efek tersebut tidak selalu berlangsung konsisten.

Teuku menjelaskan terdapat pula penelitian yang menunjukkan dampak nilai tukar terhadap ekspor sawit relatif terbatas karena produksi sawit membutuhkan waktu tumbuh yang panjang dan sebagian besar perdagangan dilakukan melalui kontrak jangka panjang dengan harga yang telah disepakati sebelumnya.

Dalam jangka panjang, bahkan terdapat studi yang menemukan depresiasi rupiah dapat berdampak negatif terhadap ekspor minyak nabati ke pasar utama seperti India dan Tiongkok.

"Permintaan minyak sawit Indonesia pada dasarnya lebih ditentukan oleh karakteristik negara pengimpor dan siklus ekonomi dibandingkan perubahan nilai tukar," tulisnya.

Batu Bara dan Pertambangan

Komoditas lain yang diperkirakan memperoleh manfaat adalah batu bara dan sektor pertambangan. Sepanjang Januari-Mei 2026, kelompok bahan bakar mineral menyumbang 11,56% dari total ekspor Indonesia, sedangkan batu bara sendiri menjadi salah satu komoditas ekspor terbesar nasional.

Namun, Teuku menilai pengaruh depresiasi rupiah terhadap ekspor batu bara relatif terbatas. Hal itu karena sebagian besar transaksi dilakukan melalui kontrak jangka panjang dan menggunakan harga acuan internasional.

Selain itu, permintaan batu bara lebih banyak dipengaruhi pertumbuhan industri dan kebutuhan energi negara-negara pengimpor dibandingkan perubahan nilai tukar.

Temuan serupa juga berlaku untuk komoditas pertambangan lain seperti nikel. Menurutnya, ekspor komoditas tambang Indonesia lebih dipengaruhi kebijakan pemerintah, hilirisasi, serta permintaan dari Tiongkok daripada pergerakan kurs rupiah.

Pariwisata Ikut Mendapat Efek Positif

Selain sektor komoditas, pelemahan rupiah juga berpotensi menguntungkan industri pariwisata.

Nilai tukar yang lebih murah membuat biaya berwisata ke Indonesia menjadi lebih rendah bagi wisatawan asing sehingga meningkatkan daya tarik destinasi domestik.

Meski demikian, Teuku mengingatkan hubungan antara depresiasi rupiah dan kenaikan kunjungan wisatawan tidak selalu kuat. Dalam sejumlah periode, peningkatan wisatawan lebih dipengaruhi musim liburan dibandingkan pelemahan kurs.

Di sisi lain, volatilitas nilai tukar juga dapat menjadi faktor risiko yang menghambat perjalanan internasional apabila dianggap terlalu bergejolak.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah