Harga minyak acuan dunia kembali turun setelah Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai usulan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut meningkatkan prospek pulihnya arus pasokan energi melalui jalur perairan strategis tersebut.

Harga minyak Brent turun 0,2% menjadi US$ 79,26 per barel pada pukul 08.54 waktu Singapura. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,5% menjadi US$ 74,88 per barel.

Harga minyak terus tertekan di tengah optimisme kesepakatan untuk memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz semakin dekat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyatakan bahwa kesepakatan sudah hampir tercapai. 

Meski demikian,  para pelaku pasar enggan menutup seluruh posisi beli (long position), karena khawatir konflik dapat kembali meningkat secara tiba-tiba.

"Harga minyak AS sudah turun di bawah US$ 80 per barel seiring pasar minyak global menilai potensi tercapainya kesepakatan dengan Iran. Jika kesepakatan benar-benar tercapai, harga minyak berpotensi turun menuju US$ 70 per barel,” kata Manajer Portofolio Senior di Tortoise Capital, Rob Thummel dikutip dari Bloomberg, Kamis (6/8).

Pejabat Iran mengatakan, kesepakatan kedua negara terkait Selat Hormuz masih dalam tahap peninjauan, dan jalur pelayaran tersebut akan tetap beroperasi selama dua hingga empat bulan. Namun, kesepakatan itu belum berarti Selat Hormuz akan dibuka sepenuhnya.

Trump mengatakan, Washington masih melakukan pembicaraan dengan Teheran dan akan melihat bagaimana hasilnya dalam negosiasi yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, risiko terhadap pelayaran di Timur Tengah masih membayangi. Angkatan Laut Inggris melaporkan sebuah kapal tanker mendengar dua ledakan saat melintasi Selat Hormuz di dekat Kumzar, Oman. 

Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman sebelumnya mengklaim telah menargetkan sebuah kapal tanker minyak Arab Saudi di Teluk Aden. Kelompok tersebut juga mengancam kapal-kapal lain yang melintas di Laut Merah.

Sementara itu, data pemerintah Amerika Serikat menunjukkan persediaan minyak mentah AS kembali meningkat setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak 2018. Stok minyak di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma, juga naik kembali di atas 20 juta barel, yang secara luas dianggap sebagai batas minimum operasional. Pada saat yang sama, ekspor produk distilat yang mayoritas terdiri dari solar mencapai rekor tertinggi.

Di kawasan lain, aktivitas pemuatan minyak di terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC) di Laut Hitam kembali terganggu setelah muncul peringatan serangan drone di wilayah sekitar. Terminal tersebut menangani sebagian besar ekspor minyak mentah Kazakhstan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani